Rabu, 09 Desember 2020

Wisata Religi di Kota Palembang: Al-Qur'an Al-Akbar

Halo guys, kali ini Mangcoy akan mereview sesuatu yang berbeda dari yang lainnya. Bukan laptop yang akan aku review, bukan pula benda-benda kesayangan yang menjadi bahan ulasan kali ini, melainkan sebuah lokasi wisata yang ada di Kota Palembang, yaitu Al-Qur'an raksasa, atau dikenal sebagai Al-Qur'an Al-Akbar. O ya tulisanku kali ini berkolaborasi dengan Mas Dodo Nugraha (dodonugraha.blogspot.com). Yang pasti, setelah membaca tulisanku ini, jangan lupa berkunjung di tulisannya Mas Dodo ya hehe.


Jika berbicara tentang wisata di Kota Palembang, biasanya yang ada di benak para pembaca adalah Jembatan Ampera yang begitu fenomenal, ataupun wisata kuliner, yang bernama pempek ini, selalu menaruh rasa rindu jika telah lama tak jumpa dengan makanan berbahan dasar ikan satu ini. Nah, pada kesempatan ini aku akan memperkenalkan kepada para pembaca mengenai salah satu wisata lain di Kota Palembang yang mungkin kurang terdengar oleh wisatawan dari segala penjuru Indonesia, namun sangat layak dikunjungi. Sambutlah ia yaitu Al-Qur'an Al-Akbar, yang mana tiap ayat-ayat sucinya terukir indah di atas media kayu tembesu.

Al-Qur'an raksasa ini, atau dikenal sebagai Al-Qur'an Al-Akbar, terletak di lingkungan Pondok Pesantren Al Ihsaniyah, Kecamatan Gandus, Palembang. Kalau kata orang Palembang, Gandus itu terkenal sebagai kota debu, karena... ya banyak debunya wkwk. FYI aja nih, Kecamatan Gandus menurutku dapat dikatakan sebagai salah satu ujungnya Palembang. Ya kalo kita lihat di Google Maps sih, Kecamatan Gandus terletak di paling barat, berbatasan langsung dengan Kabupaten Banyuasin.

Sejarah Singkat Pembuatan Al-Qur'an Al-Akbar

Sedikit cerita sejarah singkatnya nih, guys. Gagasan membuat Al-Qur'an terbesar ini sebenarnya datang dari mimpi seorang Ustadz H. Syofwatillah Mohzaib ketika beliau tertidur di malam hari di malam Bulan Ramadhan tahun 2002 Masehi. Beliau bermimpi untuk membuat mushaf Al-Qur'an dari kayu layaknya ukiran kaligrafi hasil karyanya yang terpasang di jendela Masjid Agung Kota Palembang. Kemudian dibuatkan satu keping kaligrafi lembaran Al-Qur'an, yang kemudian ditunjukkan kepada para tokoh-tokoh agama terkemuka di Palembang, sembari meminta saran, restu, dan mengharap dukungan secara moril maupun materil.

Para tokoh-tokoh terkemuka tersebut pun menyetujuinya, memberikan segala macam dukungan, dana telah terkumpulkan, kemudian dilanjutkan pembuatan kaligrafi tersebut di kediaman Ustadz H. Syofwatillah Mohzaib. Target perkiraan selesai pada tahun 2004, namun meleset akibat terkendala dana dan bahan baku kayu tembesu yang semakin langka, menyebabkan harga kayu per kubik pun menjadi naik. Selain faktor dana, teknik pengukiran kaligrafinya tidak bisa sembarangan ya. Ingat loh ini yang dibuat Mushaf Al-Qur'an, sangat tidak pantas apabila hasil pembuatannya pada sembarangan. Oleh sebab itu, proses pembuatan kaligrafi ini memerlukan perpaduan berbagai keahlian personil dalam tim, baik dari sisi keindahannya maupun sisi pengoreksian dalam penulisan tiap huruf dalam ayat-ayat Al-Qur'an ini.

Alhamdulillah, singkat cerita Al-Qur'an ini akhirnya selesai pada tahun 2008. Al-Qur'an ini terdiri dari 630 halaman, 315 lembar, lengkap dari juz 1 hingga juz 30. Pada hari Kamis 14 Mei 2009, Al-Qur'an ini diluncurkan di Masjid Agung Palembang oleh Kepala Departemen Agama Provinsi Sumatera Selatan, H. Najib Haitami yang dihadiri oleh para hafizh dan hafizah se-Sumatera Selatan. Peluncuran ini juga bertujuan untuk memperlihatkan kepada masyarakat Al-Qur'an terbesar ini, sembari agar masyarakat dapat memberikan masukan maupun koreksi jika terdapat ada kesalahan. O ya Al-Qur'an ini sempat dipamerkan di lantai 2 Masjid Agung Palembang sejak tahun 2008 hingga 2013.

Yang kerennya nih, Konferensi Parliament Union of OIC Member State atau Persatuan Negara-Negara Organisasi Konferensi Islam, disingkat menjadi PUIC, dilaksanakan di Kota Palembang pada tanggal 25-30 Januari 2012, yang dihadiri oleh sekitar 51 negara Islam di dunia. Pada momen inilah disepakati untuk melakukan peresmian Al-Qur'an Al-Akbar ini oleh Presiden Republik Indonesia yang menjabat pada saat itu, yaitu Bapak Susilo Bambang Yudhoyono, sekaligus penandatanganan prasasti Al-Qur'an Al-Akbar di hadapan peserta konferensi PUIC, serta seluruh peserta sepakat menobatkan Al-Qur'an ini menjadi Al-Qur'an terbesar di dunia dari jenis ukiran kayu.

Prasasti peresmian Al-Qur'an terbesar ini yang diresmikan oleh Bapak Susilo Bambang Yudhoyono

Berkunjung ke Al-Qur'an Al-Akbar

Pada awal Desember 2020, aku berkesempatan mengunjungi Al-Qur'an Al-Akbar yang terletak di Kecamatan Gandus ini. Tak lupa seorang girl friend, alias teman wanita menemaniku, bersama Mas Dodo juga yang menjadi obat nyamuk. Kalau berkunjung ke sini sih paling nyaman ya naik mobil, karena faktor lokasi yang lumayan jauh dari pusat Kota Palembang, dan kondisi jalan yang banyak debu akibat truk-truk mengangkut pasir sering berlalu lalang di jalan yang lebarnya hanya mampu menampung dua lajur kendaraan. Walaupun aku telah lama menetap di Kota Palembang, tetapi inilah momen pertama kali aku mengunjungi tempat ini. Jadi apa salahnya deh menjadi seorang wisatawan di kota sendiri hehe.

Benar saja, lokasi Al-Qur'an ini benar-benar terletak di kawasan Pondok Pesantren Al-Ihsaniyah. Gedungnya sendiri pun bersebelahan gitu. Sebelah kiri ialah pondok pesantrennya, dan di sebelahnya lokasi dimana Al-Qur'an ini berada. O iya ada salah satu peraturan yang wajib dipenuhi ketika berkunjung ke tempat ini, yaitu kita mesti memakai pakaian yang rapi dan sopan. Ya iyalah namanya juga wisata religi, yang kita kunjungi ialah sebuah mushaf Al-Qur'an yang terukir indah di atas kayu tembesu. Rasanya tidak etis jika berpakaian pakaian yang pendek-pendek maupun minim bahan.

Ketika baru melangkahkan kaki memasuki halaman bangunan Al-Qur'an Al-Akbar ini, kita langsung disuguhkan berbagai macam para penjual yang menjajakan dagangannya. Di pelatarannya, terdapat meja dan kursi-kursi yang telah disusun rapi, menandakan di sekitar situ ada penjual makanan, atau sering disebut sebagai kantin. Aku sih nggak terlalu peduli dengan apa yang dijual di sana, karena tujuan aku berkunjung hanya untuk melihat karya ukir Al-Qur'an saja, bukan untuk belanja padahal alasan lainnya karena aku buntu.

Suasana halaman Al-Qur'an Al-Akbar


Di ujung pelataran gedung, terdapat loket untuk membeli tiket masuk. Tiketnya sendiri dihargai Rp20.000 untuk per orang dewasa, dan Rp15.000 untuk anak-anak. Sangat terjangkau sih menurutku. Karena kami datang tiga orang, sehingga kami wajib membayar uang sebesar Rp60.000 untuk membeli tiga tiket masuk.

Loket tempat membeli tiket masuk. 

Tiket masuk pun sudah dibeli, kemudian kami tinggal menuju pintu masuk ke gedung utamanya. Untuk masuk ke tempatnya kita mesti naik beberapa anak tangga terlebih dahulu. Sempat terheran-heran kok pintu masuknya ada di lantai dua sih, apakah tempatnya kecil? Dan ternyata tidak, guys. Rumah Al-Qur'an Al-Akbar ini ternyata megah nan luas yang akan aku jelaskan pada beberapa paragraf selanjutnya. O iya di pintu masuknya kita disuguhkan semacam ukiran kayu tembesu, dengan paduan warna merah hati dan keemasan yang benar-benar menggambarkan kebudayaan Palembang.


Barulah melewati pintu masuk, kita akan bertemu dengan seorang bapak yang bertugas menjaga area wisata, sembari mengecek suhu para pengunjung (Aku berkunjung di saat musim pandemi copet eh copit ya gaes). Bapaknya juga sangat ramah, menjelaskan sedikit informasi tentang wisata Al-Qur'an terbesar ini diiringi dengan sedikit kelakar receh darinya. Sempat berpikir bahwa si bapak bakal menjadi pemandu wisata kami, tetapi ternyata tidak gaes, bapaknya hanya menyambut kami sebentar, kemudian kembali ke tempat duduk singgasananya eyaak

Kami mesti berjalan lagi, melewati semacam lorong lobby sebelum memasuki ruang utama. Ada beberapa stan lapak yang lagi-lagi kami tidak tertarik karena alasan buntu wkwk. Di samping kanan pun mulai tampak sebuah ukiran kaligrafi Al-Qur'an yang menurutku lembaran ini berisi doa-doa ketika kita mengkhatamkan Al-Qur'an. Terdapat juga kursi-kursi dari ukiran kayu khas Kerajaan Palembang Darussalam. Namun sayang di lobby ini menurutku kesannya kayak kurang rapi dan membosankan, seperti kelihatan sedang melakukan renovasi dan tidak ada kesan exciting-nya ketika kita mengunjungi area wisata yang bersejarah.


Sampailah di ujung lobby, ada pintu masuk untuk menuju ruang utama yang lagi-lagi menurutku tampak seadanya saja. Hanya sekedar dinding yang tak menutupi hingga atap secara keseluruhan, ditambah pintu masuk ala-ala invisible alias ngga ada pintunya guys wkwk sekedar dinding yang dibuat lubang berbentuk persegi panjang. Di ujung lobby ini juga ada photo booth ala-ala frame Instagram berdesain lawas buat kalian yang hobi eksis.

Pintu masuk yang seadanya. Dari sini sudah kelihatan beberapa penampakan mushaf Al-Qur'annya

Barulah masuk mata kita sudah disuguhkan berbagai macam ukiran mushaf Al-Qur'an yang indah. Seluruh dindingnya, dari atas hingga ke bawah dipenuhi oleh ukiran-ukiran kaligrafi tersebut. Lagi-lagi, warna merah gelap dan emas menjadi warna utama di ukiran ini, karena yaa budaya Palembang yang mengedepankan keberanian (merah) dan kemewahan (emas). Jika diperhatikan, di ruangan ini berisi beberapa lembaran bagian akhir Al-Qur'an, dan paling atas kanan ialah trio surah qul, Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-naas. Pokoknya di ruangan ini dipenuhi lembaran-lembaran kayu berisi ayat-ayat Al-Qur'an yang terukir indah di atas kayu. Ciamik!

Perjalanan wisata bukan hanya sebatas disini saja ya, guys. Jika kita masuk lagi lebih ke dalam, barulah kita menemukan ruang utama Al-Qur'an Al-Akbar ini. Sepanjang mata memandang hanyalah susunan-susunan lembaran kayu kaligrafi yang tersusun rapi, ditambah halaman Surah Al-Fatihah & ayat-ayat awal Surah Al-Baqoroh di tiap sisi-sisinya, layaknya buku mushaf Al-Qur'an yang sedang terbuka. Masya Allah, indah banget deh pokoknya.


Tampak ruang utama Al-Qur'an Al-Akbar ini.

Ruang utama dengan mode panorama

That's it? Apakah hanya sampai disini saja? Tentunya tidak guys! Kita masih bisa menelusuri Al-Qur'an ini lebih dalam. Terdapat tangga untuk turun menuju kumpulan rak-rak lembaran Al-Qur'an tersebut agar kita dapat melihat lebih dekat tiap-tiap lembarannya dan mengaji & membacanya.

Saat kita akan menuruni tangga, lagi-lagi kita dihadapkan berbagai macam lapak jualan milik orang lain. Ini sepertinya pihak pengurus mendesain rute perjalanan pengunjung dengan sedemikian rupa supaya kita, si pengunjung, membuat hati tergoyah untuk berbelanja. Saking banyaknya barang yang dijual, seolah-olah kita sedang berjalan di Pasar 16 Ilir (sebuah perumpamaan lebay yang tak patut dicontoh). Namun sayang, disini nggak ada yang jualan pempek, kapal ketek berbahan bakar minyak goreng, ataupun anak ayam berwarna pink ya. Namanya wisata religi, jadi yang dijual pernak-pernik, aksesoris, maupun pakaian bernuansa islami.

Tangga turun yang langsung menuju lapak para pedagang.

Ada penunjuk arah nih, biar ngga tersesat ke rumah bini muda.


Sebanyak apapun lapak jualan orang, kalau lagi buntu nggak akan tergoda wkwkw

Barulah setelah melewati beberapa kios jualan, kita ditemukan lagi ruang utama Al-Qur'an Al-Akbar, tetapi kali ini view-nya dari bawah.


Ukiran sebanyak ini wajar sih jika menelan biaya hingga miliaran rupiah.

Selain Al-Qur'an, celengannya pun dibuat raksasa.

Seperti kata aku tadi, kita bisa melihat tiap-tiap lembarannya secara detail dan dekat. Dibalik tingginya susunan lembaran-lembaran yang menjulang, masih ada sekitar lima atau enam baris lagi di belakangnya. Jadi seolah-olah Al-Qur'an ini terletak di lemari besi raksasa. Apakah kita bisa masuk? Tentunya bisa dong. Sayangnya kita hanya dapat masuk ke dalam rak besi di tingkat pertama saja. Untuk tingkat kedua hingga seterusnya sebenarnya bisa diakses dengan tangga besi yang ada di belakang rak, namun aksesnya ditutup. Mungkin karena khawatir rak-rak besi tidak mampu menahan beban para pengunjung yang naik, atau sekedar alasan keamanan khawatir akan terjatuh dari ketinggian.

Yang menariknya, ternyata di lembaran kayu ini terdapat dua sisi yang terukir ayat-ayat Al-Qur'an. Jadi lembarannya bisa diputar-putar layaknya kita membuka pintu untuk menuju halaman berikutnya.




Akhir Kata

Menurutku, Al-Qur'an Al-Akbar merupakan sebuah tempat wisata religi yang recommended buat dikunjungi. Dunia pun mengakui bahwa Al-Qur'an raksasa ini tercatat sebagai Al-Qur'an terbesar di dunia yang terbuat dari ukiran kayu. Museum Rekor Indonesia (MURI) pun juga menobatkan Al-Qur'an ini sebagai Al-Qur'an terbesar dan terberat di dunia. Disamping bertujuan memuliakan Kalam milik Allah ini, pembuatan Al-Qur'an ini juga bertujuan untuk melestarikan budaya Palembang lewat ukiran-ukiran dari kayu tembesu.

Sayangnya momen kami berkunjung ini kayaknya belum pas, karena banyak renovasi disana-sini, sehingga kesannya kurang rapi gitu. Mungkin jika berkunjungnya di Bulan Ramadhan segala renovasi tersebut telah rampung dan tempat wisata jadi lebih rapi, mengingat di Bulan Ramadhan ini katanya menjadi puncaknya jumlah wisatawan yang datang, apalagi Bulan Ramadhan adalah bulannya Al-Qur'an. But overall, it was a great experience when we were visiting here.

***

Demikianlah tulisan ini aku akhiri. Btw terima kasih telah sudi membaca tulisanku yang lumayan berantakan ini wkwkwk. Semoga dengan tulisan ini, aku bisa membujuk para pembaca buat berkunjung ke kota pempek, dan tak lupa pula bersilahturahmi dengan Al-Qur'an raksasa ini hihii. O ya seperti kataku di atas, jangan lupa untuk membaca tulisan tentang Al-Qur'an Al-Akbar ini versi Mas Dodo yaa. Anda bisa mengakses postingannya dengan mengklik tulisan ini.

Baiklah, aku akhiri saja tulisan ini dengan mengucapkan bye byeee!!


Bonus Foto

Numpang Eksis di Blogger hohoo


bm

Nemo enim ipsam voluptatem quia voluptas sit aspernatur aut odit aut fugit, sed quia consequuntur magni dolores eos qui ratione voluptatem sequi nesciunt.

11 comments

  1. Whoaaaaahhhh, aku baru tau ternyata berasal dari mimpi sang ustadz. Dan kemudian mimpi itu bener bener dowujudkan secara nyata eh. Keren. Komplit nian sejarahnyo, pacak tau sampe se detail itu awak dan.
    Eh, wait.... Obat nyamuk? Bukan aku yg jadi obat nyamuk, tapi.........

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kan sejarahnyo ado di tempel di sebelah kiri wkwkwk tinggal dirangkum dan ditulis ulang

      Hapus
  2. btw saya dari blog mas dodo, konten seperti ini sangat bagus buat nambah wawasan wisata religius

    BalasHapus
  3. Lah looh .. itu kenapa foto terakhir wajahnya diganti smiley dan alien sih 😱 ?.
    Takut tenar yaa ..., wwkkk.

    Luas juga museum satu ini, ya.
    Menurutku rapi juga penataannya.
    Lengkap pula dengan kios-kios pedagang.
    Biasanya sih kalau di suatu lokasi wisata, harga dagangannya jadi mihils...., gimana disitu apa juga iya mihils ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Takut tenar hahaa
      Kalo masalah barang-barang nggak terlalu nanyain sih kak. Nanya nanya, beli kagak (maklum bujangan buntu hohoo)

      Hapus
  4. Religous tourism atau halal tourism perlu diperkenalkan melalui gerakan pariwisata yang masif, salah satunya seperti yang kak Aldan lakukan. Semoga semakin banyak yang mengetahui keberadaan destinasi pariwisata yang satu ini ya.

    Terimakasih kak, telah berkontribusi dalam memperkenalkan destinasi wisata religi dengan menuliskan artikel ini :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yups. Tempat wisata yang itu terkadang tidak terlalu dikenal oleh masyarakat banyak, tersembunyi layaknya berlian terkubur di dalam bumi.
      Btw makasih atas kunjungannya ya kak

      Hapus
  5. Bagus banget Kaka, sangat memotivasi buat kesana eya, mudah-mudahan Pandemi cepet berlalu dan ada kesempatan buat kesana:"

    BalasHapus
ads
avatar
Admin THE-Mangcoy Online
Welcome to THE-Mangcoy theme