Rabu, 13 Januari 2021

Panama Disease: Ancaman Serius Bagi Tanaman Pisang

Jika mendengar kata pisang, biasanya yang timbul di benak kalian adalah bebuahan berwarna kuning yang identik dengan monyet. Entah mengapa orang-orang selalu menghubungkan monyet dengan pisang. Padahal setahuku monyet suka makan buah-buahan apa saja, layaknya kita seorang manusia. Tak selamanya buah pisang ini berwarna kuning, karena ada beberapa varietas pisang yang tetap berwarna hijau tetapi buahnya itu sudah matang. Ya pada intinya jika melihat buah pisang yang berwarna hijau, mentang-mentang pisang selalu digambarkan dengan warna kuning, langsung mengklaim buah tersebut tidak matang wkwkw.

Hingga sampai detik pada saat aku menulis tulisan ini, spesies manusia sedang dihadapkan dengan pandemi virus yang bernama COVID-19. Namun tahukah kalian, ada juga spesies lain yang sedang berhadapan dengan pandemi yang mematikan, yaitu spesies yang memiliki genus Musa alias keluarga pisang. Apa dampaknya bagi manusia? Kalau secara penyakitnya, ya tidak ada. Tetapi pandemi ini akan berdampak terhadap perspektif kita terhadap buah pisang. Nggak terbayang kan jika di masa depan rasa buah pisang yang telah familier di lidah kita, ternyata telah berubah drastis dan tidak sama seperti apa yang kita rasakan pada saat ini. Mengapa bisa demikian? Mari simak tulisanku berikut ini.

Sejarah Singkat Panama Disease

Gros Michel, Sempat Menjadi Varietas Pisang Digemari oleh Penduduk Dunia

Pada abad ke-19 dan ke-20, Gros Michel merupakan salah satu jenis pisang yang paling digemari oleh penduduk dunia, terutama negara-negara di Benua Eropa dan Amerika, dan bahkan menjadi ekspor paling dominan untuk kedua benua tersebut. Negara-negara di Amerika Tengah, seperti Panama, Honduras dan Costa Rica menjadi tempat perkebunan secara besar-besaran untuk pisang berjenis Gros Michel ini, demi memenuhi kebutuhan ekspor. Mengapa Gros Michel disukai orang-orang? Kulitnya yang tebal membuat pisang lebih awet ketika diangkut, serta memiliki rasa yang manis dan enak.

Fungus TR1 Menjadi Dalang Utama Langkanya Gros Michel

Hingga pada tahun 1950-an, sebuah fungus yang memiliki nama ilmiah Fusarium oxysporum f.sp.cubense Race 1 (disingkat menjadi TR1) menyerang tanaman-tanaman pisang Gros Michel di Amerika Tengah. Si fungus, alias jamur ini masuk ke akar tanaman, memutus aliran nutrien dan air, sehingga menyebabkan tanaman malnutrisi dan menjadi layu. Penanaman Gros Michel masih dilakukan di wilayah-wilayah yang belum terinfeksi oleh TR1.

Pada tahun 1960-an, eksportir pisang Gros Michel tidak mampu memenuhi kebutuhan ekspor, sehingga sempat terjadi kelangkaan buah pisang di dunia barat. Karena kelangkaan inilah para petani pisang memutar otak untuk mencari varian pisang yang lain, tetapi kebal terhadap serangan TR1.

Pisang Cavendish, Pengganti Gros Michel yang Kebal Terhadap Fungus TR1

Pisang Cavendish kemudian dipilih sebagai pengganti Gros Michel. Walaupun memiliki rasa yang lebih hambar, tetapi Cavendish lebih kebal terhadap fenomena Panama Disease. Oleh sebab itu, sejak tahun 1960-an hingga sekarang, Cavendish menjadi komoditi ekspor pisang utama di Negara Amerika Tengah, dan menjadi jenis pisang favorit di seluruh dunia.

Nasib Buah Pisang di Masa Depan

Cavendish Banana Actually Isn't Perfect!

Walaupun jenis pisang ini telah eksis selama kurang lebih 60 tahun, ternyata ancaman penyakit layu masih mengintai, loh! Mengapa demikian? Pada tahun 1989 Fusarium oxysporum f.sp.cubense Race 4 (TR4) telah ditemukan di Taiwan, dan secara spesifik menyerang Pisang Cavendish yang akan mengancam akan terjadinya lagi fenomena Panama Disease seperti di tahun-tahun sebelumnya. Pada Juli 2013, sebuah organisasi di Amerika Latin yang berfokus pada kesehatan tanaman dan hewan membuat rencana cadangan demi memerangi patogen TR4 ini.

Mengapa Pisang Sangat Rentan Terhadap Penyakit Layu?

Mungkin sebagian dari pembaca ada yang bertanya-tanya, kok bisa Gros Michel dan Cavendish rentan sekali terhadap serangan patogen ini? Jawabannya adalah karena kedua jenis pisang tersebut memiliki kelemahan terhadap varietas genetikanya. Mengapa bisa demikian? Kalian pasti tahu jika pohon pisang bereproduksi secara aseksual, alias dengan memunculkan tunas di sekitar tanaman induknya. Secara mendasar, reproduksi aseksual seperti ini akan menghasilkan gen yang sama seperti tanaman induknya. Ibarat kata kita memiliki kembaran yang sangat identik, alias diri kita hasil kloningan. Akibatnya, hampir semua pohon pisang memiliki pertahanan diri terhadap penyakit yang juga identik dan memiliki kelemahan yang sama. Satu serangan fatal dari patogen bisa menjadi ancaman serius bagi seluruh tanaman yang identik.

Apakah ada obatnya?

Sejauh yang aku ketahui, jawabannya belum ada. Para petani telah mencoba menyemprotkan bahan kimia dan fungicides ke kebun-kebun pisangnya. Hasilnya? Tidak efektif, dan fungus TR1 tetap saja tidak hilang. Sterilisasi dengan fumigasi tanah-tanah dengan methyl bromide diketahui bisa mengurangi angka pohon pisang yang terserang penyakit. Namun tindakan ini bersifat sementara, hanya efektif dalam jangka waktu tiga tahun saja. Setelah itu patogen akan berkolonisasi kembali di area yang telah di fumigasi tadi. Sudah banyak berbagai macam metode yang dilakukan demi memerangi patogen ini, namun masih saja si patogen merugikan ini menyerang pepohonan pisang.

Harapan terakhir ialah dengan rekayasa genetika. Tanaman pohon pisang yang ada, dikembangkan sedemikian rupa menjadi "super pohon pisang", alias tanaman pisang yang kebal terhadap serangan Tropical Race. Hal tersebut masih dalam tahap riset oleh para ilmuan di seluruh dunia.

***

Gros Michel?

Masyarakat dunia sebenarnya merasa kehilangan atas langkanya ketersediaan Pisang Gros Michel, terutama di dunia bagian barat. Bisa-bisanya patogen kecil yang tak kasat mata meluluhlantakkan komoditi ekspor Pisang Gros Michel yang kemudian mengakibatkan pisang tersebut digantikan oleh varietas pisang lain yang rasanya lebih buruk yang bernama Pisang Cavendish. Di video YouTube berikut, si narator mengaku harus membayar uang sejumlah $116 demi memperoleh 14 buah Pisang Gros Michel. Itu kalau dirupiahkan, menjadi sekitar Rp1.600.000-an (dengan kurs sekitar $1 = Rp14.000an). Woah menghabiskan uang jutaan rupiah demi makan pisang wkwkk.


Dari tadi ngomongin Gros Michel. Mungkin pada penasaran seperti apa sih si Gros Michel ini? Seberapa spesial varietas pisang ini, bisa-bisanya membuat orang rela membayar sejumlah uang yang tidak sedikit demi mencicipi pisang yang dicap sebagai Rajanya Buah Pisang? Kalau Anda ke toko buah kemudian bertanya "Mbak apakah ada Pisang Gros Michel?", pasti akan dijawabnya tidak ada. Tetapi apabila Anda bertanya "Mbak ada Pisang Ambon, gak?", pasti langsung disodorkannya (asumsi barang sedang ready :P)

Gros Michel a.k.a Pisang Ambon

Ya, Pisang Gros Michel sebenarnya adalah Pisang Ambon! Buah pisang yang berharga fantastis di negeri seberang, ternyata ketersediaannya ruah melimpah di negara kita tercinta ini, dengan harga yang relatif sangat murah. Tukang jualan buah di sekitar tempat aku tinggal menghargai buah ini hanya Rp10.000 saja per kilogramnya. Wah bisa kaya raya nih jika jualan pisang di negeri barat haha. Tak heran sih jika stok Pisang Ambon di Indonesia melimpah, karena sejatinya varietas pisang ini asli berasal dari negara-negara Asia Tenggara.

Buahnya besar, tebal, dan memiliki rasa yang manis, menjadi kenikmatan tersendiri ketika mengonsumsinya. Apalagi saat buahnya sudah matang, wiih bau semerbak wangi pisang memenuhi ruangan di tempat si pisang berada. Jika dibandingkan dengan Pisang Cavendish, soal rasa masih nikmat Pisang Ambon. Dihargai dua kali lipat dan memiliki penampilan kuning cerah yang instagramable banget, ternyata tidak lebih baik ketimbang Pisang Ambon jika indra pengecap kita yang membandingkannya.

Pisang Cavendish

Akhir Kata

Tanaman pisang boleh jadi sedang menghadapi ancaman yang mengerikan. Tetapi kita sebagai penikmat buah pisang patut bersyukur karena ketersediaan buah pisang masih melimpah di mana-mana, terkhusus di Negara Indonesia, dan berharap segera ditemukan langkah terbaik untuk memerangi fungi penyebab penyakit layu pada tanaman pisang. Entah berapa tahun lagi, atau some point in the future, rasa buah pisang yang lezat yang selama ini kita ketahui telah berubah akibat varietas pisang yang biasa kita konsumsi telah punah. Tetapi semoga saja hal tersebut tak kan pernah terjadi.

Demikianlah artikel ini aku tulis, semoga bermanfaat bagi para pembaca. Stay safe!

bm

Nemo enim ipsam voluptatem quia voluptas sit aspernatur aut odit aut fugit, sed quia consequuntur magni dolores eos qui ratione voluptatem sequi nesciunt.

4 comments

  1. Wah keren Aldan, walaupun lulusan teknik elektro, tapi bisa memberikan penjelasan tentang pisang secara scientific dengan cara yang keren 👍🏻

    BalasHapus
  2. Mantap kak heeh, bener sih dari pas kecil hobi banget makan pisang, pas dewasa ngerasain sesuatu yang beda jadi jarang deh, ternyata baru tau ini toh alasan ilmiahnya heeh

    BalasHapus
  3. Lengkap banget ttg pisang. Pakar pisang inii

    BalasHapus
  4. Jadi inget dosenku yang suka banget nanem pisang, suka cerita kondisi pisangnya dikelas, dan menyarankan kami buat nanem pisang juga. Percaya atau engga dia sering ngajak ngobrol pisangmya wkwk


    Harusnya dia baca tulisan ini sih

    BalasHapus
ads
avatar
Admin THE-Mangcoy Online
Welcome to THE-Mangcoy theme