Rabu, 10 Februari 2021

Bergelud Dengan Netizen

Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi telah berkembang sangat pesat sejak abad ke-20 yang lalu. Untuk sekedar bertukar informasi saja, orang-orang terdahulu memerlukan waktu berhari-hari demi pesannya tersebut diterima oleh si penerima pesan. Untunglah di era modern seperti sekarang, sudah banyak beragam pilihan media komunikasi, seperti telepon, SMS, dan internet.

Kehadiran internet layaknya menjadi sebuah keajaiban yang menakjubkan di bidang perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Di internet kita bisa membaca artikel, menonton film, mendengarkan musik, berbagi dokumen, foto, ataupun berkas, mengirim surat, berkomunikasi melalui pesan singkat, melakukan panggilan suara maupun video, berbelanja, transaksi melalui i-Banking, dan lain sebagainya. Peran koran, televisi, DVD Player, MP3 Player, surat pos, telepon, SMS, dan ATM diperankan oleh satu jenis teknologi saja, yaitu internet.

Udah cukup mukadimahnya, karena tulisan ini sebenarnya bukan mengenai kebermanfaatan internet bagi kehidupan manusia, melainkan sekedar tulisan receh yang menjadi media tempat aku bercurhat mengenai rasa ketidakenakanku ketika berselancar di dunia internet. Ya, internet telah mencakup hampir seluruh permukaan Bumi ini dan bisa saling terhubung antar jaringan internet yang lainnya dengan cepat. Semakin canggihnya teknologi di balik internet ini sejalan dengan semakin kompleks segi fungsionalitas dari internet ini. Dulu internet hanya mampu menghubungkan dua perangkat saja, tetapi kini di internet kita bisa ngerumpi bareng tetangga, membahas gosip yang katanya Mas Dodo udah kebelet nikah tapi belum memiliki calon istri yang pas, hingga gosip mancanegara tentang Om Donald Trump yang katanya lagi mabar dengan Koh Kim Jong Un.

Bergelud Dengan Netizen

Ceritaku kini berawal dari sebuah isu hangat di Twitter, yang membahas tentang keikhlasan bersedekah vs nominal yang disedekahkan. Dari cuitan tersebut muncul berbagai macam pendapat dari kedua sisi. Ada yang bersikukuh bahwa sedekah itu yang penting besar nominalnya, sehingga menjadi kaya adalah sebuah syarat penting untuk bersedekah. Sedangkan di sisi lainnya mengatakan keikhlasan ialah nomor satu, terlepas dengan jumlah nominal yang disedekahkan. Biasalah, bukan netizen namanya jika tak suka dengan keributan.

Singkat cerita, aku menemukan suatu cuitan seseorang yang menurutku agak kurang "ngena" di hati, sehingga timbul keinginan untuk memberikan sedikit komentar dari tulisannya tersebut.

Sekalian promosi akun Twitter hohoo. Ayo mutualan(?)

Yaps, aku mengomentarinya dengan Quote Retweet semacam itu, agar ..... entah ngapain pake Quote Retweet, padahal ada fitur tombol reply wwkkwkw. Maksudnya gimana tuh? Ya gak gimana-gimana sih, aku sekedar mengomentari tulisan Si Om Om Bijaksana itu dengan memberikan contoh kasus sesuai statement yang disampaikannya. Terlepas benar tidaknya, para pembaca bisa menilai sendiri. Dan tahukah Anda bagaimana balasannya?

Eng ing eeeng.... Dapat salam goblok!

Pertama kali aku membaca balasan abang yang cerdas itu, jelas kaget! Bisa-bisanya dikatai GOBLOK semudah itu. Belum ada yang pernah mengata-ngatainku seperti itu kecuali konteksnya untuk sekedar bercanda dengan teman sebaya. Ketika berinteraksi dengan seorang teman, terkadang mereka nyeletuk "Cepetlah lolo", "*insert any complain here*, lolo" kepadaku. Aku tak pernah merasa tersinggung dengan ungkapan tersebut karena itu sebuah ejekan para bocah yang konteks penggunaannya agar terasa akrab saja dengan teman-teman. Dan juga terakhir aku mendengar ungkapan tersebut saat aku masih duduk di bangku SMP. O ya buat yang belum tahu, kata "lolo" merupakan kosa kata Bahasa Palembang yang artinya bodoh, tolol, atau goblok.

Dikarenakan aku yang kepo, aku pun membuka profil si Abang Jago tersebut dan mencari apakah ada informasi yang bisa aku peroleh untuk mengetahui sedikit identitas dari orang tersebut. Setelah skill kepo, stalking, dan teknik intelijen lainnya aku kerahkan, didapatlah beberapa informasi ternyata orang tersebut pernah berkuliah di universitas dan fakultas yang sama sepertiku, dan juga beliau ini masuk kuliahnya dua tahun lebih dahulu daripada aku. Waah udah tua ya, tapi kok mulutnya kaya bocah SMP ya *eeeeh wqwqwq.

Kalau kata orang Palembang, yang begini disebut ngeci'ke balak

Aku paling malas harus ribut-ribut dengan netizen. Selain malu jika dilihat oleh orang lain, berdebat dengan orang yang tak dikenal di internet hanya akan menghabiskan energi saja. Energi habis, emosi membara, dan kalaupun menang debat tak dapat hadiah apa-apa. Karena alasan itulah aku membalasnya dengan seadanya, dengan cara yang santun walaupun hati ini masih terdapat rasa kesal karena dengan entengnya orang ngata-ngatain kita dengan kata GOBLOK.

Apakah ada kelanjutannya? Jawabannya tidak. Perseteruan kami hanya sebatas jawabanku itu saja. Pergelutan kami di dunia maya memang tidak heboh seperti kebanyakan para warganet lainnya, sampai-sampai seluruh isi kebun binatang keluar di postingannya. Tapi paling tidak, ada hikmah yang bisa aku petik dari kejadian ini dan menjadi tema tulisan untuk blog ini.

Jaga Akhlak di Dunia Maya

Semua konten yang tersimpan di jejaring internet bisa diakses oleh seluruh orang selagi orang tersebut memiliki jaringan internet. Oleh sebab itu, internet bisa dikatakan sebuah tempat umum yang tak memiliki tempat secara fisik. Sejak kecil, kita pasti sudah diajari orang tua kita untuk menjaga kelakuan kita di tempat umum seperti tidak membuang sampah sembarangan dan tidak berkata-kata kotor. Nah, sama halnya juga disaat kita sedang daring, perilaku tetap dijaga! Jangan mentang-mentang di internet kita tidak bertemu dengan netizen lainnya dan kalian bisa bersantai di rumah sembari bertoxic di internet.

Berdebatlah dengan santun

Di internet kita bisa bertemu dengan segala macam jenis manusia, dengan sifat & watak yang berbeda-beda. Oleh sebab itu, tak jarang kita memiliki pandangan yang berbeda-beda terhadap suatu hal sehingga menimbulkan suatu perdebatan.

Tak ada salahnya dengan berdebat, karena dengan perdebatanlah biasanya akan muncul perspektif baru terhadap suatu hal dan menambah ilmu pengetahuan kita. Layaknya yang diajarkan guru kita pada saat masih sekolah, penyampaian pendapat dalam perdebatan harus disampaikan dengan santun. Jika engkau tak menyukai pendapat seseorang, maka seranglah argumennya bukan kepribadiannya. Tak etis rasanya jika ejekan "bocah goblok" kita lontarkan jika lawan debat Anda adalah hanyalah seorang siswa SMP. Kalaupun orang tersebut berargumen yang salah, silahkan dikoreksi saja, beritahu bagaimana yang benarnya. Tak perlu kau lontarkan ejekan "BODOH!" terhadap orang tersebut.

Jika dirasa perdebatan tersebut tak menemukan titik temu, lebih baik mengalah walaupun kita tahu kebenarannya. Kalau boleh mengambil sepotong hadist dalam ajaran Islam, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Barangsiapa yang meninggalkan perdebatan sementara ia berada di atas kebatilan, maka Allah akan bangunkan sebuah rumah baginya di pinggiran surga. Dan barangsiapa yang meninggalkan perdebatan padahal dia berada di atas kebenaran, maka Allah akan membangun sebuah rumah baginya di atas surga.” (Shahih at-Targib wat Tarhib, jilid 1, no. 138) Sumber: https://muslim.or.id/42711-menjadi-sesat-karena-hobi-berdebat-kusir.html. Kalau pakai istilah yang beken di masyarakat, yang waras mengalah wkwkw.

Kita Tidak Tahu Latar Belakang Lawan Bicara Kita

Setiap orang bisa mengakses internet selagi ia memiliki kemampuan untuk mengoperasikan perangkat yang telah terhubung dengan jaringan internet. Tidak peduli apakah orang tersebut seorang guru, siswa yang masih sekolah, atau seorang petani. Boleh jadi kita berkeras hati untuk mempertahankan argumen kita sampai-sampai mencaci maki lawan bicara kita. Tetapi bayangkan jika lawan bicaramu itu adalah seorang pakar di bidang yang engkau perdebatkan itu.

Contohnya adalah si A berkomentar di sebuah postingan bahaya merokok di akun Instagramnya si B, yang mana si A tersebut tidak setuju dengan postingan tersebut sehingga berujung menyalah-nyalahi postingan itu yang diiringi dengan ejekan kasar. Kemudian direspon oleh si B dan terjadilah adu argumen yang sengit. Tanpa sepengetahuan si A, ternyata si B ini adalah seorang dokter spesialis paru-paru. Apa yang disampaikan oleh si B benar adanya, dan karena si A merasa kalah argumen dia hanya melontarkan caci-maki diiringi dengan teori ngibulnya yang makin ngelantur. Kini siapa yang semakin kelihatan gobloknya? Itu hanya salah satu contoh kasus saja ya, guys. Hal ini sudah banyak terjadi di dunia nyata yang akibat lisannya yang tak bisa dijaga berujung dibui karena terjerat pasal UU ITE.

Atau mungkin kita sering mengejek seseorang di internet dengan perkataan "jelek"-lah, "lebay"-lah, "terlalu dramatisir"-lah, dan lain sebagainya. Ingatlah wahai sahabatku, kita tak mungkin mengetahui 100% latar belakang seseorang mengapa mereka bersikap demikian yang membuat kita tergerak untuk mengejeknya. Ada baiknya kita diam jika kita tak mampu berkata yang bermanfaat.

Track Record di Internet Menyeramkan

Misuh-misuh di ruang internet memang melegakan hati yang sedang dirundung rasa amarah. Namun perbuatan tersebut biasanya akan menimbulkan penyesalan karena kita telah berperilaku layaknya anak kecil. Kalau marah-marahnya di dunia nyata mungkin bisa diselesaikan dengan cara langsung meminta maaf dengan orang yang kita marahi tersebut dan melupakannya. Namun apa jadinya jika kita marah-marahnya di ruang internet? Boleh jadi kita sudah bermaafan dengan yang bersangkutan dan membuat video klarifikasi menghapus postingan yang menjadi bahan amarah kita tersebut, tetapi sadarkah kalian bahwa mungkin ada orang lain yang masih menyimpan screenshot atau dokumentasi postingan yang telah dihapus tersebut. Jejak digital itu kejam, sekali tersimpan di jejaring internet, kita tak lagi memiliki kontrol penuh terhadap konten tersebut. Masih ingatkah kalian tentang ada seorang influencer yang dibully habis-habisan akibat beberapa tahun silam cuitan di Twitternya berbau porno?

***

Demikianlah tulisanku kali ini. Semoga bisa menjadi renungan bagi kita agar senantiasa menjaga akhlak yang baik dimana pun kita berada.

12 comments

  1. Namo kau ngapo jadi Siti Kusmini wooy dan hahaa

    BalasHapus
  2. Ini kegiatan aku setiap hari di Twitter, debat santuy dengan cebong kampret, kadrun, boomers, k-popers, anak senja dan berbagai macam spesies netizen lainnya wkwk

    BalasHapus
  3. Biasanya saya jadi silent reader aja di sosmed. Pas bacain debat, saya lebih suka menyimak dan mengambil beberapa poin masuk akalnya buat dijadikan bahan renungan.
    Tapi, kalau udah bosen-bosen amat, saya kadang ikut nimbrung tapi dengan komen berbentuk komedi. Jadi, jarang-jarang saya dapat lawan debat yang serius. 😅

    BalasHapus
    Balasan
    1. wkwkwkw bercanda sekarang pun mesti hati-hati loh. Ada yang gak ngerti dgn satire, baperan, terus berujung ke UU ITE *eehh

      Hapus
    2. Nah, itu yang saya takutkan. Makannya kalimatnya harus sehalus mungkin. 😅

      Hapus
  4. Kayaknya memang seru debat kusir dengan netijen di internet, BTW sitty kusmini itu siapa ya bang hehe, nama malamkah wkwkwkw.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Woaaah cocok jadi buzzerRP nih *eeehhh
      aokwaowkaw ada makna sendiri dari nama Sitty Kusmini tersebut

      Hapus
  5. Benar sekali. Haha. Kalau di twitter memang banyak yang senang debat kusir ya. Padahal harusnya dijauhi aja. Kalau mau diskusi sehat sih ok. Saya biasanya menemukan ini di cyber account yang identitasnya bahkan bisa aja ga jelas ini siapa 😂😅

    BalasHapus
    Balasan
    1. wwkwkwk itulah yang namanya buzzer. Id akunnya banyak angka togel.
      Yups aku pun menyukai berdebatan dan diskusi yang sehat. Tapi kalau ujung2nya sekedar menggoblok2in orang, atau pembahasan yang jadi ngawur ngidul mah buat apa

      Hapus
  6. bukan netizen namanya jika tak suka dengan keributan. ===> sepakat. tanpa konflik apapun tema ceritanya tak akan menarik. Selamat pagi, Mas.

    BalasHapus
ads
avatar
Admin THE-Mangcoy Online
Welcome to THE-Mangcoy theme