Kamis, 24 Maret 2022

Nongkrong di Starbucks

Siapa sih yang gak tau dengan Starbucks? Itu loh kedai kopi berlogo siluman warna hijau yang namanya telah mendunia. Layaknya KFC ataupun McDonalds, Starbucks sudah memiliki ribuan cabang yang tersebar di hampir seluruh dunia. Kalau kalian berkesempatan jalan-jalan ke luar negeri, pasti ada saja Starbucks di negara tersebut. 

Nah pada segmen random stuff kali ini, Mangcoy akan berbagi pengalaman apa sih enaknya nongki di Starbucks. Apalagi kita tau banget kalau tempat tersebut terkenal dengan harganya yang fantastis, terutama bagi kaum kere seperti aku misalnya. Apakah harga ekstra yang dibayarkan tersebut worth to pay

Gw Nongki di Starbucks nich

The Most Overpriced Coffee I’ve Ever Bought! 

Ngapain sih kok aku gabut banget mau nongkrong di tempat gitu? Ya alasan sebenarnya karena  aku sedang banyak duit aku sedang menunggu adikku yang sedang perawatan kulit di sebuah klinik kecantikan. Kebetulan di sebelah klinik tersebut ada kafe Starbucks. Daripada gabut menunggu sendirian, dan hitung-hitung pengalaman perdana nongkrong di sana, ya sekali-kali deh nyobain nongkrong di sana. Franchise Starbucks yang aku cobain ini bisa dibilang berlokasi di tengah-tengah Kota Palembang. Tepatnya berada di seberang sebuah taman yang paling terkenal di Palembang. 

Pertama kali masuk ke kafenya, wiiiihhh….biasa saja๐Ÿ˜‘. Layaknya kafe-kafe penjual kopi pada umumnya. Ada meja dan kursi yang disusun sedemikan rupa buat pelanggan yang mau duduk berlama-lama di sana, dan di dekat pintu masuk terdapat sederet meja counter yang mana tempat tersebut merupakan tempat memesan minuman dan kasir. 

Sebagai penikmat kopi yang pure tanpa embel-embel apapun, pasti kopi yang kucari adalah kopi hitam, baik itu kopi manual brew seperti tubruk dan V60, maupun Americano untuk yang espresso based. Benar saja mataku langsung tertuju ke Americano, meskipun sederet pilihan variasi kopi terpampang di daftar menu.

Pada saat itu aku belum langsung memesan. Aku masih memperhatikan berapa harga kopi yang ingin kupesan, dengan tiga ukuran yang berbeda. Berkat mataku yang mulai tak awas lagi disaat melihat jarak jauh, awalnya aku mengira harga secangkir Americano sekitar 20 ribuan, layaknya di kafe-kafe pada umumnya. Setelah aku perhatikan lebih lanjut, ternyata eh ternyata aku terkejut bukan main. Empat puluh ribu rupiah hanya untuk espresso shot yang diencerkan dengan air! This must be good, then

Disaat aku masih melongo mantengin harga, Abang Barista langsung menanyakan apa yang ingin kupesan. Dengan berat hati, aku sebutkan saja pesanan yang ingin kupesan, yaitu Americano berukuran grande. Mahal sih, emang. Tapi kalau mau walk out, pasti rasanya akan malu sekali hahaaa.. Ya sudahlah, demi harga diri agar tidak dicap sebagai “Bujang Buntu”, aku lanjutkan saja pemesananku tersebut. 

Usai menyebutkan menu yang aku inginkan, si Abang Barista menawarkan menu paket lain yang isinya ada sebuah roti dan Americano. Aku turuti saja kehendaknya, karena hitung-hitung selisih 10 ribu sudah dapat camilan yang bisa mengganjal perut disaat gabut. Tak lama dari situ si Abang langsung gesit menyiapkan pesanan yang aku pesan, sembari memberikan pertanyaan yang menurutku lumayan keren.

Keren bagaimana? Pertama, untuk roti yang kupesan, ditanya mau pakai piring apa. Apakah piring beling atau piring kertas. Ya aku sebutkan saja piring beling biasa agar tidak menghabiskan kertas (go green gitu loh). Kedua, disaat sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan kopi, Abang Barista bertanya apakah kopinya mau yang strong atau yang biasa. Ya siapa sih yang nolak kala ditawarin gitu, apalagi aku suka banget dengan kopi kental tanpa gula.  

Disaat mau bayar, eng ing eng… total yang harus kubayarkan adalah sebesar Rp62.000. Hmm kalau dipikir-pikir, uang segitu udah bisa nyetok biji kopi buat sebulan. Tapi, ah sudahla, nasi telah menjadi bubur, eh  maksudnya kopi telah jadi, terpaksa aku bayarkan uang tersebut.

Kalau dipikir-pikir, apa yang dilakukan oleh Abang Barista tersebut termasuk trik marketing agar dapat menarik uang sebanyak-banyaknya dari kostumer. Pelanggan awalnya ingin memesan A, eh ditawarin paket ini itu berkedok promo, belum lagi ditawarin tambahan ini itu sembari ia sibuk mempersiapkan pesanan kita. Kondisi Abang Barista yang sibuk begitu, ditambah suara si Abang yang samar-samar akibat tertabrak dengan bisingnya peralatan kopi, membuat pelanggannya dilanda rasa "cemas" sehingga kita cenderung meng-iya-kan penawarannya tersebut.  

Taste? It’s Mediocre 

Kalau ditanya bagaimana rasa Americano seharga dua kali lipat tersebut, rasanya ya biasa saja. Tidak ada yang spesial jika dibandingkan dengan kopi-kopi Americano yang biasa aku beli di kafe-kafe lain. Kalau dibilang pemilihan biji kopi yang lebih baik daripada kafe-kafe lainnya, menurutku gak juga. Aku tidak mengatakan kalau Americano buatan Starbucks ini tidak enak. To be honest enak kok, but not at this price point. Coba saja kalau harganya masih di rentang 20 ribuan, pasti aku nggak bakal sungkan buat membelinya lagi di kemudian hari.


Untuk makanannya sendiri, ya not too bad lah. Tekstur rotinya tidak seperti roti tawar pada umumnya, melainkan memiliki lapisan-lapisan layaknya croissant. Di tengah-tengah roti tersebut ada semacam isian krim putih yang manis. Tapi sayang isian tersebut, literally hanya berada di tengah-tengah. Kalau bagian ujung rotinya dimakan ya siap-siap memakan roti kering tanpa isian and tasteless. Aku lihat lagi nama makanan yang ada di struk pembayarannya. Katanya ada unsur "Almond"-nya, menurut yang tertulis di struk pembayaran. Tapi, mana almondnya? Aku tak merasakan unsur kacang almond di dalamnya. Mungkin almondnya udah tercampur dengan adonan rotinya, tetapi yang dicampur hanya satu biji saja *ehhh.

Pastry-nya yang Lembut. Sayang filling-nya kurang banyak๐Ÿ˜

Mahal Karena Fasilitas?

Kalau ada yang bilang "Starbucks mahal karena fasilitas tempatnya yang nyaman", menurutku nggak juga. Tempatnya memang bersih dan rapi, tetapi secara overall tidak ada yang spesial, alias sama saja layaknya di kafe lain pada umumnya. Memang sih yang lagi nongki gak terlalu ramai. Yang nongkrong-nongkrong pun mayoritas para pengguna produk apel yang kegigit (U know what I mean, lah). Tapi tetap saja, nggak ada yang spesial disini.

Wi-Fi? No way, bruh. Kalau mau nugas ya siapin hotspot sendiri dong ๐Ÿ˜œ. AC? Aku sempat mau duduk di kursi bagian sudut. Tetapi sayang rasanya gerah banget. Barulah duduk tepat di bawah ventilasi AC sentral rasanya agak adem. Toilet? Ini nih yang ingin aku kritisi.

What's wrong with the toilet? Tidak ada yang salah, semuanya bersih, rapi, dan wangi... except this one, absennya bidet. Hey, aku tahu kalian berkonsep modern yang kiblatnya di dunia barat, tapi apa salahnya menyediakan secuil selang yang bisa disemprotkan agar kita bisa berbersihan usai buang air. Kalian tahu sendiri Indonesia memiliki budaya cebok dengan air, baik usai buang air kecil maupun buang air besar. Apalagi Indonesia mayoritas penganut Islam, yang kalian tahu sendiri masalah thaharah seperti ini merupakan masalah yang sangat krusial. Aku mengkritisi masalah ini bukan hanya untuk kedai Starbucks yang aku kunjungi ini saja, melainkan untuk semua pemilik real estate yang mau coba-coba nganeh berkonsep modern ala-ala barat. Mungkin kalian bisa bilang aku lebay, masalah kecil kok dipermasalahkan. Tapi rasanya sedih banget, di tempat dan negara sendiri, yang mayoritas pengunjungnya adalah orang lokal tapi budaya bebersihan dengan air dikesampingkan.

Conclusion - This Is Going To Be My First And Last Visit

Apakah aku puas nongki cantiks di Starbucks? Rasanya puas... kalau harganya nggak kemahalan. Sebagai penikmat kopi yang pure, aku tak peduli dengan menu-menu lain yang kopinya terdiri dari berbagai macam campuran pemanis buatan, aku cuma kepingin merasakan kopi tersebut apa adanya. Biar si biji kopi yang berbicara mengenai rasa yang dibawanya. Biar kata orang kopi hitam itu pahit dan tidak enak, kalau biji kopinya tepat dan diseduh oleh barista yang maestro, pasti kopinya akan sangat nikmat.

Harga segitu menurutku sangat tidak masuk akal, jika yang kalian butuhkan adalah secangkir kopi dan a dose of caffeine. Masih banyak kafe lain yang harganya jauh lebih murah, tetapi rasa kopinya tak kalah nikmat. Entahlah, mungkin ada salah satu menu kopi di Starbucks yang rasanya sangat nikmat untuk diseruput dan tidak ditemui di toko kopi manapun. Kalaupun Anda termasuk penikmat salah satu menu di Starbucks, ya sah-sah aja sih, toh itu duit-duit kalian hehee... Tetapi dari perspektif seorang pecinta kopi, yang just a coffee without any addition, tempat ini tidak aku rekomendasikan.

"Dasar kamunya saja yang miskin, berarti pangsa pasarnya bukan kampungan seperti elo!" Bruh, I don't f'kin care. I'm coming here for coffee, not just an overhyped product. Aku tak masalah belanja produk berharga mahal kalau memang produk tersebut berkualitas, dan worth every penny. Tetapi kalau sekedar mahal karena brand dan segi rasa/kualitasnya biasa-biasa saja, sorry bukan gue banget.

2 comments

  1. Wahahaha.. mantap sekali ulasannya mas, saya jadi tercerahkan. Saya termasuk penyuka kopi yang belum pernah nyobain starbak. Meskipun saya tau rasanya pasti lebih nikmat, tapi entah kenapa saya gak terlalu minat buat nyobain. Saya lebih suka nyeruput kopi robusta karena rasanya bener-bener pas di lidah wkwk..

    BalasHapus
    Balasan
    1. gak usah mas. mending stay di robusta/arabica yang diseduh sendiri saja. lebih ngirit, dan kerasa lebih nyatu dengan kopinya๐Ÿ˜ƒ

      Hapus
ads
avatar
Admin THE-Mangcoy Online
Welcome to THE-Mangcoy theme