Jumat, 10 Juli 2026

Hello World - Kembali Ngeblog Lagi!

Rasanya sudah lama sekali saya tidak menatap layar editor Blogger yang sejujurnya bikin sakit mata jika ditatap terlalu lama dari layar laptop (karena tampliannya putih cerah blaaar menusuk mata). Ya, hampir setahun hiatus dari dunia tulis menulis. Sebenarnya rasa rindu nulis sudah mencuat sejak lama. Namun ada banyak hal yang memaksakan perasaan rindu tersebut harus ditahan (red: penulisnya memang lagi males hihi...)

Meskipun demikian, menghilangnya penulis hampir setahun bukan berarti blog ini mati, dilupakan begitu saja. Banyak ide-ide yang sebenarnya ingin aku tuangkan ke blog kecil-kecilan ini. Namun dikarenakan ada "banyak hal" tadi yang menjadikan belum sempat untuk lanjut nulis lagi. Selain itu domain themangcoy.com kebanggaanku ini akan kuusahakan tetap hidup seterusnya, yang mana hal tersebut selaras dengan blog ini juga akan tetap hidup. Ya, adanya domain pribadi hitung-hitung bisa jadi personal branding juga toh?


Lama Menghilang

Pernah gak sih saat kecil dulu kita sempat bermimpi mau cepat-cepat jadi orang dewasa saja, biar bisa bebas ngapa-ngapain? Mungkin sebagian besar dari kita pernah ya (termasuk penulis), yang mungkin salah satu penyebabnya gak boleh ini-itu oleh Mama/Papa kita. Main tempat kawan? Gak boleh pulang kesorean, harus izin dulu! Terkekang banget rasanya, bukan? Namun pada kenyataannya, semakin dewasa bukannya semakin bebas, tetapi semakin banyak kegiatan dan kewajiban yang harus dikerjakan, yang lagi-lagi semesta seolah-olah mengekang kita dengan cara yang lain.

Hiruk-pikuk kesibukan orang dewasa tadi lagi-lagi lumayan menghabiskan energi kita buat ngapa-ngapain. Belumlah sampai rumah, satu jam sebelum pulang kerja pun sudah terbayang betapa nyamannya pelukan kasur yang empuk tersebut. Makanya tak heran jika kita menemukan orang-orang yang hobinya mulai seolah-olah terlupakan. Boleh jadi di kantor kepikiran "wah aku mau berkegiatan ngelanjutin hobi aku", ehh sesampai di rumah malah asyik goler-goleran sambil scroll TikTok.

Dan apa yang kutulis di paragraf sebelumnya tersebut merupakan pengalaman jujur saya pribadi hehe.. Ya, fenomena depleted energy yang berimbas jadinya si penulis yang malas. Banyak ide-ide cemerlang buat ditulis, tetapi mau lihat laptop aja udah males banget (di kantor udah 8 jam depan laptop, kok di rumah buka laptop lagi sih!).

Kehadiran Artificial Intelligence

Tahun 2020-an ini, terutama 2022 keatas menurutku salah satu fase perkembangan teknologi yang signifikan dalam sejarah manusia. Di era awal internet mem-booming, kita tahu si Mbah Google yang serba tahu itu pun takjub dibuatnya. Mau cari cara memasak ayam goreng yang super lezat? Ah tak perlu kamu bolak-balik buka buku cari resepnya, cukup ketik di Pencarian nanti Mbah Google yang cariin. Sekarang? Nggak cuma dicariin, namun bisa dirangkum oleh AI secara instan, tanpa perlu klik link satu-satu dari hasil pencarian. Memang sih kebiasaan Googling tetap tidak hilang dari kebiasaan kita. Tapi coba ingat kapan terakhir membuka link dari hasil pencarian Googling kamu? Yang ada sebagian besar berakhir di ringkasan AI bukan?

Pencarian Google biasanya hanya berakhir di ringkasan AI

Para penulis pun mulai dimanjakan oleh kehadiran AI, baik itu penulis amatiran atau profesional. AI ini menurutku seperti asisten pribadi yang mampu memberikan kemudahaan saat proses menulis. Entah sekedar bantu brainstorming mengulik ide, membuat kerangka tulisan, menyusun kalimat, atau bahkan bisa melakukan yang lebih hebat lagi, yaitu generate satu artikel penuh dengan berbagai macam gaya tulisan dalam waktu yang singkat. Jika penulis manusia mungkin membutuhkan waktu paling cepat satu jam untuk menghasilkan satu artikel penuh, sedangkan AI bisa membuatnya hanya dalam hitungan detik saja! Tak heran adanya AI ini bikin orang makin malas menulis.

Terus apa gunanya blog? Nulis panjang-panjang pun orang lebih memilih tanya langsung ke AI. Kalaupun pakai fitur Google Search, yang ada kebanyakan hanya sebatas Ringkasan AI saja, tanpa perlu repot scroll ke bawah, klik suatu artikel dan membaca satu artikel yang panjang. Imbasnya semakin hari traffic blog yang semakin menurun. Lagi-lagi, apa gunanya blog di era sekarang? Toh nulis berjam-jam tapi ujung-ujungnya nggak ada yang baca.

"Ah kamu sok-sokan nulisgenerate aja pakai AI, jadi satu artikel tinggal copas! Mau buat lima artikel per hari hayo dijabanin"

Kesibukan yang semakin hari makin padat, diperparah dengan tamparan realita bahwasanya "blog itu udah gak relate di jaman now", tambah deh makin terbengkalai blog ini. Mungkin bukan aku saja yang mengalami hilangnya interest buat aktif nge-blog lagi. Banyak kalau kuperhatikan, blog yang dulu aktif dan ramai, kini satu per satu tidak aktif posting lagi. Ada yang hijrah ke konsep video pendek, dan bahkan ada yang benar-benar hilang dari peredaran dunia maya. Begitu juga komunitas-komunitas blog yang mulai tidak aktif lagi. Ya, dulu rasanya seru banget saat aku masih ikut komunitas Blogger Unsri (Blogsri), 1minggu1cerita, yang mana kami rutin setoran artikel, blog-walking, dan bahkan membahas terkait tips-tips nge-blog. Yeah, all good things must come to an end. Dunia terus bergerak. Tak dipungkiri perkembangan zaman pun berimbas kepada ada kebiasaan yang perlahan mulai memudar salah satunya kegiatan blogging.

but, I'm Back!

Tapi ya sudahlah, yang berlalu biarlah berlalu. Rasa rindu buat nulis makin hari rasanya makin tak terbendung. Ada bagian dari hidupku yang hilang, yang mana dulu sering banget mengisi waktu luang. Belum lagi ide-ide tulisan yang makin meronta "ayok tulis aku, biar dunia tahu tentang aku!" Oleh sebab itu aku putuskan (coba lagi) kembali konsisten buat menulis lagi, meskipun vibe-nya mungkin tak sama lagi seperti dulu.

Kalau kata Orang Sunda, paduli bagong ah. Tak peduli ketertarikan masyarakat membaca satu artikel penuh makin memudar. Tak peduli canggihnya AI yang mampu menghasilkan ratusan tulisan dalam waktu sekejab, mengalahkan penulis mahir manusia sekalipun. Aku akan mencoba tetap konsisten kerap mengisi konten di blog ini, meskipun dengan tantangan-tantangan yang ada. Ingat, tujuanku membuat blog dulu bukan serta-merta mencari traffic ataupun cuan, melainkan menjadi tempat pelarian ketika aku kepengen ngoceh hal-hal paling random sekalipun. Tak masalah traffic mungkin sepi, tak masalah secara SEO mungkin tulisanku kacau balau. Yang penting, themangcoy.com tetap menjadi saksi bisu tentang perjalanan hidup dan pemikiranku hingga selamanya eyaaak...

AI itu Teman

Meskipun kemampuan AI dalam menghasilkan tulisan dinilai luar biasa, ketahuilah AI bisa menjadi tool yang sangat powerful bagi penulis. Mungkin generate full article kemudian posting rasanya esensi nge-blog tidak ada, tetapi kita ubah cara pemikiran kita pemanfaatan AI ini sebagai alat bantu memudahkan kita saat menulis. Jujur semenjak kehadiran AI ini aku manfaatkan untuk mengulik ide-ideku agar lebih berkembang lagi. Selain itu AI turut membantu membuat kerangka tulisan, mengoreksi kalimat yang salah, bahkan berkontribusi menentukan judul terbaik buat tulisan-tulisanku. Walapun demikian, otak manusialah tetap memegang kontrol bagaimana artikel yang telah direncanakan tadi disajikan.

Apakah matematikawan membenci kehadiran kalkulator? Tidak, yang ada ilmu matematika makin berkembang pesat berkat adanya tools yang canggih ini. Begitu juga bidang tulis-menulis. Penulis yang bijak harusnya bisa memanfaatkan segala tools yang ada untuk meningkatkan kualitas tulisan kita.

Emosional Tak Tergantikan

Memang, AI mampu menghasilkan artikel-artikel dalam waktu yang singkat. Namun kalau kita perhatikan, gaya tulisan hasil AI itu terlalu sempurna, soulless, dan tidak berkarakter. Layaknya robot yang bergerak kaku mengikuti instruksi. Mungkin ide yang disampaikan mudah dicerna oleh pembaca, namun kesempurnaan tersebut membuat tulisan tersebut tidak dapat dinikmati.

Kalau kita baca tulisan manusia, kita seolah-olah ikut terhanyut apa yang sedang dirasakan oleh penulis ketika ia bercerita. Hal tersebut disebabkan karena sentuhan emosional manusa yang hingga detik ini tidak bisa direplikasi oleh alat buatan manapun. Meskipun kita tidak saling mengenal, adanya koneksi emosional ini yang membuat pembaca turut hanyut dengan perasaan sang penulis.

Bayangkan seporsi makanan fast-food vs sup hangat buatan ibu kita? Secara rasa mungkin bisa dikatakan kalah dengan makanan-makanan fast-food yang sudah mendunia. Tetapi adanya ketidaksempurnaan tersebut yang membuat kita kerap balik lagi memilih makanan buatan ibu kita, karena adanya ikatan emosional di dalamnya. 

Boleh jadi tulisan kita kalimatnya tidak efektif, boleh jadi terdapat typo disana-sini di artikel kita. Tapi ketahuilah, ketidaksempurnaan tersebut merupakan sifat alami manusia. Sentuhan emosional tersebut yang membuat tulisan buatan manusia seolah-olah lebih hidup dan berkarakter, dan emosional tersebut tak kan tergantikan oleh AI.

Atur Strategi

Budaya blogging tak lagi sama seperti dulu. Tak ada lagi desain flashy nan nyentrik ala-ala blog tahun 2000an. Jumlah pengunjung tak lagi seramai seperti dulu. Kolom komentar pun tak banyak dulu yang dipenuhi orang-orang yang rutin berkunjung blog. Sekilas budaya blogging terlihat mati suri. Ya, walaupun demikian tetap atur strategi jika kepingin blog tetap eksis.

Ingat masalah AI yang tak mampu meniru emosional manusia? Nah, ada baiknya tulisan-tulisan kita dipenuhi dengan sentuhan emosional. Tak mesti isinya emosi tangis-menangis ataupun marah-marah. Sebuah tulisan ulasan terkait produk sudah menggambarkan seberapa "emosional" sih ketika menggunakan produk tersebut, atau sekedar cerita pengalaman seru waktu liburan semester, atau bahkan sekedar ngoceh random terkait apa yang dipikirkan sekarang, seperti artikel yang kamu baca ini. Boleh jadi AI bisa bikin artikel yang banyak. Tapi ingatlah, manusia dikaruniai akal dan pikiran, memiliki pengalaman hidup, memiliki jiwa, jasad, hati, perasaan, yang tentunya kalau diceritakan bisa menjadi suatu cerita yang seru.

Posting Komentar

ads
avatar
Admin THE-Mangcoy Online
Welcome to THE-Mangcoy theme