Senin, 28 September 2020

Cinta Monyet, Monyet Bercerita?

Tiada masa paling indah

Masa-masa di sekolah

Tiada kisah paling indah

Kisah-kasih di sekolah

Kata-kata diatas merupakan sebuah penggalan dari lirik salah satu lagu yang cukup tenar pada masanya dan dinyanyikan oleh salah satu penyanyi legendaris di Indonesia, yaitu Chrisye dengan judul lagu Kisah-Kasih di sekolah.  Talking about school,  Yes, I 100% agree with the statement yang mengatakan masa-masa di sekolah adalah momen yang terindah. (opinion may be vary, karena tak semua orang mengalami hal-hal yang menyenangkan di sekolah. Tetapi ini murni pendapatku yang berdasarkan pengalamanku sendiri). Entah status apa yang telah kita sandang pada saat ini, tetapi percayalah, tak sedikit dari kita sedang merindukan momen ketika masih di sekolah. Entah dia merindukan momen ketika gila-gilaan bersama teman sekolahnya, entah ketika dihukum oleh guru sekelas, atau mungkin ada yang merindukan kisah-kisah percintaannya saat masih duduk di bangku sekolah.

Ilustrasi tentang cinta.

Disini aku akan kembali menceritakan sesuatu yang absurd dan juga unfaedah, yaitu mengenai percintaan antar monyet, atau bisa dikatakan perbucinan di kalangan anak remaja. Bukan filosofi yang akan kujelaskan, bukan pula membahas perdebatan fatwa-fatwa pergaulan laki-laki dan perempuan menurut pandangan kalangan ulama vs kaum open minded, ataupun tips & trik agar semakin langgeng dengan pacar. Lebih tepatnya, yaitu sekedar kisah pribadiku dulu sebagai remaja yang tengah jatuh cinta πŸ˜†. Aku menulis cerita ini karena dipaksa oleh tim Blogsri yang mewajibkan tema tentang Kisah Kasih di Sekolah.

Mungkin latar cerita ini akan aku mulai ketika aku masih duduk di Sekolah Dasar. Sebagai bocah SD, it's obvious that I had lot of friends back then. Berbagai macam jenis manusia telah aku temui, mulai dari yang baik, yang hobi ngutang, hobi berkelahi, hobi ngadu, ongok-ongok, laki-laki, perempuan, bernafas, berhidung, bermata #ehh. Ketika aku menginjak kelas 4 SD, ada salah satu teman sekelasku yang mungkin "cukup menarik perhatianku" pada saat itu. Kami sering bermain dan bercanda dengannya, beserta teman-teman yang lain pula. Yang bikin aku tertarik kepada beliau ini adalah tingkah lakunya yang cukup lucu. Seorang aku yang masih lugu itu belum mengerti konsep apa itu percintaan, yang aku tau cuma belajar di sekolah dan bermain dengan teman-teman. Jangankan mau nembak ataupun pacaran, tentang cintapun aku sangat buta. Jadi perasaanku padanya berakhir begitu saja, ditelan oleh kesibukan seorang bocah. Mungkinkah ini tanda-tanda "hormon" percintaanku mulai bekerja? Atau sekedar ketertarikan biasa sesama teman sekolah? I don't know.

Seiring berjalannya waktu, detik demi detik, hari demi hari, tahun berganti tahun, aku lalui sebagai siswa di sekolah dasar yang berada di Jalan Sukabangun 2 itu. Kini aku resmi naik kelas ke kelas 6 SD. Ruang kelas baru, teman-teman baru, ya walaupun ada beberapa temanku yang merupakan teman sekelasku juga ketika berada di tingkat kelas sebelumnya. Aku duduk di bangku baris kedua, dengan urutan kedua pula jika dihitung dari sebelah kiri. Tak salah-salah, aku juga sekelas dengan seorang gadis yang dapat dikatakan sebagai salah satu artis disekolah, alias menjadi yang tercantik dan menjadi primadona para lelaki (LEBAAYY). Dan yang lebih menariknya lagi, doi ternyata duduk tepat di depanku. Kami sering berdiskusi tentang pelajaran sekolah, mengobrol, bercanda, dan interaksi-interaksi lainnya. Pada awalnya pun aku merasa biasa saja dengan si doi ini. Tapi entah mengapa, semakin hari aku semakin mengaguminya. Tidak hanya itu, aku semakin memuja-muja dirinya, kusebut-sebut pula namanya, dan juga sering terngiang di kepalaku betapa cantiknya beliau (jika anda merasa mual silahkan tinggalkan gadget anda, kemudian buang ke kotak sampah). Aku yang masih polos itu masih belum mengerti seperti apa sih konsep pacaran. Karena kepolosanku itu juga membuat aku tidak memiliki keberanian mengutarakan perasaanku kepadanya.

Seragam merah putih tak lagi terpakai, kini aku telah resmi memakai seragam biru putih. Ya, aku menjadi siswa SMP yang cukup diminati di kalangan orang tua sekitar daerahku. Mengenai "cinta-cintaan", aku belum menemukan the next dream girl-ku, sampai saat ketika aku menginjak kelas 8 SMP. Ada seorang wanita berkacamata yang cukup menarik perhatianku. Aku masih tak mengerti sebab apa yang bikin aku tertarik. Kenalpun tidak, posisi bangku sangat berjauhan (aku di barisan paling kanan, sedangkan beliau di barisan paling kiri), apalagi mau mengobrol. Seiring berjalannya waktu, dan seringnya ber-SMS-an dengan salah satu temanku yang beda kelas (dulu masih zamannya SMSan. Masih banyak bonus-bonus paket SMSan pada waktu itu), aku mengetahui bahwasanya beliau sudah memiliki pacar. Hancur hati ini berkeping-keping, tetapi tidak menyurutkan semangatku untuk berusaha mengutarakan perasaanku kepadanya. Hasilnya? Ya ditolaklah wkwk dianya udah punya pacar gitu.

Tetapi tak lama fenomena penolakan itu, aku mendengar desas-desus bahwa ada seseorang yang memiliki "rasa tertarik" denganku. Wow, really? Aku sempat ngga percaya pada saat itu. Tapi aku coba-coba menjalin cinta dengannya. Kutembak si doi pada malam hari, yang berketepatan pada Peringatan Hari Kartini tahun 2011, kutanya dengan beliau maukah kamu menjadi pacarku, via SMS (Cupu banget nembak kok via SMS wkwkwk). Kemudian kami jadian, dan dengan beliau inilah merupakan pengalaman perdana aku memiliki seorang pacar. Wew, seorang aku yang kini telah bertransformasi menjadi dewasa eyaaak. Lamanya in relationship? Hanya tiga bulan! Beliau ternyata MUNTABER (MUNdur TAnpa BERita). Menangis diriku sejadi-jadinya, kok bisa-bisanya status pacaranku kandas seperti itu saja ketika lagi sayang-sayangnya (alay? Ya aku dulu alay kok 😜). Mungkin penyebab aku diputusin karena tingkah aku dulu yang SANGAT ALAY, belum lagi aku tidak memiliki pengalaman berpacaran pada sebelumnya.

Perjalanan cinta monyetku terus berlanjut, yang mana ketika aku menjadi seorang siswa di salah satu SMA swasta yang bertemakan organisasi Islami yang merupakan KH. Ahmad Dahlan sebagai pendirinya. Di bangku SMA, perjalanan cintaku semakin menjadi-jadi saja. Tak salah-salah, lima orang telah aku berikan status sebagai MANTAN PACAR. Berbagai macam kisah telah aku torehkan sebagai sejarah di kehidupanku, mulai dari senangnya berpacaran, diputusin, drama-drama lebay, romantisme, sampai-sampai diselingkuhin oleh sahabat sendiri #ups. Aku ngga mau menjelaskan secara detail di momen ini, cukup menjadi sebuah kenangan yang tersimpan di buku kisah-kisah kehidupan aku. Tetapi yang pastinya, aku tutup lembar pacar-pacaranku saat aku menjadi seorang mahasiswa baru di Universitas Negeri di Provinsi tempat aku tinggal.

Benarkah pacaran itu haram?

Dari kisahku itu, kini aku dapat menarik kesimpulan bahwa pacaran/memiliki seorang pacar bukanlah suatu hal yang menyenangkan seperti apa yang aku bayangkan. Memiliki rasa ketertarikan terhadap lawan jenis bukanlah hal yang aneh. Kita tak bisa menolak perasaan itu, apapun itu alasannya, karena hal tersebut adalah sifat manusiawi seorang manusia. Sebagai makhluk yang memiliki akal, kita diharuskan untuk mengendalikan perasaan tersebut untuk mengarahkan kita ke suatu kebaikan, bukan mengarah ke suatu kejahatan yang memicu timbulnya suatu fitnah maupun tindak kriminalitas. Dari pengalamanku memiliki pacar, yang bisa aku simpulkan bahwa pacaran itu bikin kecanduan, apalagi kalau sudah dicampur unsur-unsur zinanya. Pada awal-awalnya suka berduaan, berdekat-dekatan, pegangan tangan, pengen lagi, pengen lebih dari yang sekarang. Mau stop? Susah bro wkwk sudah keenakan main-main dengan sang pacarnya. Oleh sebab itu, in my humble opinion seorang remaja sebaiknya dibina sejak awal agar mampu mengendalikan perasaan cintanya supaya terhindar dari hal-hal keburukan, dan juga pentingnya sex education supaya memberikan awareness kepada remaja agar terhindar dari tindak pelecehan seksual.

Untuk masalah pacaran dalam kacamata Agama Islam? Aku sih no comment mau itu haram ataupun halal. Tetapi menurut pribadiku nih, memiliki pacar/pacaran itu ngga haram. Kenapa? Ya di Al-Qur'an maupun hadist ngga ada secara terang-terangan yang mengharamkan pacaran wkwk. Kalo pacarannya dengan suami/istri sendiri? Ya ngga masalah dong! Kalo pacarannya dengan benda kesayangan, boneka kesayangan, atau anda menganggap hobi anda adalah pacar anda? Ya siapa larang dong, selagi ngga keluar dari akidah Islam (Fyi aja nih, aku menganggap motor, PC, dan laptopku sebagai pacarku karena mereka selalu menemani hari-hariku dan membuat aku bahagia wkwk). Yang dilarang oleh Agama Islam adalah jangan mendekati zina! Karena jelas tertulis salah satu dalilnya di Al-Qur'an surat Al-Isra ayat 32.

Terus pacaran halal ato ngga nih? Kalo ente muslim, telah sampai pesan dan dalil kepadamu via Al-Quran, hadist, maupun ceramah-ceramah dari para ulama. Now it depends on you, just use your own brain. Kalo ente non muslim? Ya up to you bro wkwk dalil kami ngga berlaku buat kalian hehee PEACE ✌

bm

Nemo enim ipsam voluptatem quia voluptas sit aspernatur aut odit aut fugit, sed quia consequuntur magni dolores eos qui ratione voluptatem sequi nesciunt.

9 comments

  1. Pertama, tulisan ini absurd sekali. Ngakak aku hahahaa.

    Aku tidak menyangka, di balik kepolosan anda, ternyata menyimpan mantan pacar yg banyak.

    Kereen, dan. Aseli. Lanjutkein wkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wwkwkwk namanya juga seorang remaja yang sedang mencari cinta eeh mencari jati diri

      Tengkyu bro atas kunjungannya

      Hapus
  2. Gua suka gaya nulisnya, santuy tapi ngena wkwk. Btw, saya sepakat kalo "suka" sama lawan jenis itu wajar, manusiawi, bahkan anugrah. Tapi kebanyakan dari kita kadang lupa kalo sebagian fitrahnya manusia itu adalah ujian. Nah, ujian perasaan tuh asli sih berat banget. Makanya, ada beberapa hal yang cukup sama-sama tau aja dan lebih baik tidak diungkapkan kalo belum siap.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar itu mba. Kalo hati dirasa belum siap untuk serius, mending jangan main-main deh dengan cinta, tapi kalo mmg sudah siap komitmen tinggal gaskan saja wkwk
      Btw terima kasih atas kunjungannya mbak

      Hapus
  3. Haduhh ngakak dong. Ternyata bukan cuma aing yang bucin jaman smp wkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebagai remaja rasanya tak lengkap kalo ngga bucin-bucinan #ehh wkwk
      Terima kasih ya mbak atas kunjungannya

      Hapus
  4. Cinta monyet nian ini wkwkk

    Sejak SD hingga SMA. Btw dulu asyik ya kak pas jaman-jamannya SMS. Dulu juga pernah ditembak lewat SMS, dengan polosnya diriku tidak menerima dan langsung mematahkan sim card tersebut wkwk

    Biar nggak bisa diganggu lagiπŸ˜‚

    BalasHapus
  5. Duhh kocak sih, monyet bercerita :D
    Kalau jaman dulu cinta-cintaan monyet ini mengandalkan sms-an yang promo kartunya sekali sms dapat gratis 100 kkwkw atau nelpon berapa menit dapat gratis berapa. Jaman sekarang mah sms udah kehilangan pamor, gratis sms sampe bertumpuk puluhan ribu karena kuotanya udah abis gratis smsnya masih banyak terus pas beli kuota lagi smsnya nambah teros. Eh kok aku balah bahas sms kwkwk

    BalasHapus
  6. Njirr. Nembak cewek via SMS. Kalau teman we tau, abih dah elu dibully wkwkwk.

    BalasHapus
ads
avatar
Admin THE-Mangcoy Online
Welcome to THE-Mangcoy theme