Rabu, 14 Oktober 2020

Alasan Aku Mencintai Linux Ubuntu

Why do I love Ubuntu? - Setiap perangkat komputer pasti memiliki sistem operasi agar perangkat tersebut bisa digunakan sebagai mestinya, khususnya perangkat desktop dan laptop. Banyak pilihan sistem operasi yang tersedia, mulai dari yang gratis, berbayar, hingga yang sudah ter-bundle dengan komputer yang kita beli. Nah, pada kesempatan kali ini aku akan menceritakan bagaimana bisa-bisanya aku jatuh cinta kepada seorang ukhti yang berjilbab pink dengan Linux Ubuntu, dan apa saja sih kelebihan-kelebihan sistem operasi tersebut? Why do you choose Ubuntu as your favorite? Why don't Fedora/Linux Mint/Cent OS/*insert operating system name here* instead? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu akan aku jawab apabila ente menyimak kisah saya berikut ini.

Screenshoot Ubuntu 20.04 Focal Fossa

Semua itu berawal pada zaman dahulu kala, tepatnya sekitar 10 tahun yang lalu sejak tulisan ini di-posting. Aku yang sedang santuy menikmati masa-masa menjadi bocah, mendapatkan seutas pesan singkat dari Wak-ku (kakaknya ayah), yang isinya kurang lebih menyuruhku untuk menyaksikan Channel M*tr* TV, dan beliau juga berujar untuk aku mempelajarinya. Oke kataku. Aku yang sedang santuy itu kemudian beranjak untuk meyalakan televisi, kemudian kusaksikan channel TV yang dimaksud. Seingatku, acara pada saat itu ialah sebuah talk show yang membahas tentang komputer halal (CMIIW ya, aku lupa nama tema yang sebenarnya). Kusimaklah acara tersebut dengan seksama hingga akhir acara. Reaksiku setelahnya? Bingung! Tetapi apa yang kutangkap pada saat itu sebenarnya sang narasumber sedang membahas tentang perangkat lunak gratisan, terutama yang berlisensi open source, mengingat pada era tersebut sebagian besar software yang dipakai, termasuk sistem operasi yang paling terkenal pada masanya, Windows XP, sedang gencar-gencarnya versi yang bajakan. Nah, ada salah satu perangkat lunak yang disebutkan oleh narasumber tersebut ialah Ubuntu. Apa itu Ubuntu dalam benakku? Belum pernah mendengar istilah semacam itu. Then internet is always great source for further information.

Kunyalakanlah komputer butut kesayanganku itu, kucolok modem USB ke slot USB, cek sinyal UMTS/HSDPA, great! sinyal lancar. Kubuka Mozilla Firefox yang pada saat itu masih versi 3.6.xx, kemudian langsung menuju sang sesepuh penguasa internet, Mbah Google. Dengan berbagai mantra yang kuucapkan (red: Search Keyword), kutemukan segala macam informasi mengenai Ubuntu, deskripsi tentang Ubuntu, hingga tata cara untuk memperoleh sistem operasi tersebut. Cara paling mudah untuk memperoleh OS tersebut dengan mengunduh di situs resminya. Menurutku, mengunduh bukanlah suatu jalan yang tepat, karena pada zaman itu, punya koneksi internet 100KB/s saja sudah senang setengah mati, belum lagi belum adanya paket kuota internet yang ber-GB besar dan murah. Namun ada metode lain yang sangat menarik perhatianku, yaitu kita bisa request CD dari pihak Ubuntu. Dikarenakan rasa penasaranku yang tinggi, aku ikuti alur untuk request tersebut, yang diawali dengan membuat akun, hingga mengisi data pribadi seperti nama, alamat, dan lain sebagainya. Setelah submit? Ya aku ngga menaruh harapan lebih dengan bakal dapat CDnya atau tidak. Aku hanya iseng melakukan hal tersebut hanya untuk memenuhi hasrat penasaranku saja.

Tampilan halaman untuk Request CD, alias Ubuntu Shippit. Berkat bantuan Wayback Machine, kita bisa mengakses dan melihat sebuah website di masa lampau.

Tiga minggu kemudian, aku kedatangan seorang mamang paket. Kedatangan mamang paket pada zaman itu adalah suatu hal yang cukup aneh, mengingat tidak ada kerabat jauh yang ingin mengirimkan paket ke rumah, dan juga belanja online belum menjadi kebiasaan seperti sekarang ini. Keheranan tersebut bukan hanya terjadi pada aku saja, namun mamang paket juga ikut terheran-heran. Kenapa? Sempat beberapa kali mamang paket memastikan penerima paket adalah aku, karena seorang bocah berumur 13 tahun akan menerima paket yang berasal dari Netherlands, alias Negara Belanda. Tak lama dari situ, aku teringat dengan keisengan yang aku lakukan beberapa minggu lalu. Mungkin inikah sebuah kiriman yang sebenarnya yang aku harapkan, tetapi ngga aku tunggu? Hmm menarik ....

Sefruit paket CD yang aku terima, dengan Thinkpad sebagai background💕

Paket telah diterima, lalu aku unboxing. Dilihat, di-cek and ricek, dan benar sebungkus tipis yang berisi CD instalasi Ubuntu versi 10.04 Lucid Lynx. Sontak di benakku bergumam "Ternyata beginilah rasanya memiliki software original, beserta CD fisiknya (walaupun gratisan wkwk)". Singkat cerita, dari situlah aku mengenal bagaimana environment-nya linux, fitur-fitur yang tersedia, serta keterbatasan yang dihadapi ketika berkutat di linux. Rasanya tidak lama aku memakai OS tersebut, dikarenakan sedikit software yang didukung untuk linux alias kebanyakan software yang aku pakai hanya didukung oleh Windows. Tetapi pada tahun 2016, aku kembali menginstal Ubuntu 14.04 di laptop kentangku dulu, dengan sistem dual boot bersamaan Windows 10, and I only booted into Windows if I needed software that only available on Windows

Intinya, sang developer Ubuntu ini menurutku benar-benar terniat untuk mendistribusikan sistem operasi mereka. Segala cara dilakukannya untuk menarik hati para pengguna komputer untuk beralih ke Ubuntu, mengingat sistem operasi Windows menduduki peringkat pertama sebagai OS paling banyak digunakan. Memberikan CD instalasi secara gratis menurutku sebuah usaha yang cukup efektif untuk menarik simpati para calon konsumen. Setidaknya dari diriku sendiri, aku merasa demikian. Walaupun pada saat itu aku ngga tau apa kegunaannya, at least mereka telah memberikan aku sebuah bingkisan kenang-kenangan, yang akan selalu mengingatkanku tentang Ubuntu apabila aku ingin menginstal Linux. Ya, alasan tersebutlah yang merupakan salah satu alasan mengapa aku bisa jatuh cinta dengan Ubuntu, pada pandangan pertama. For your information saja nih, layanan Ubuntu Shippit telah dihentikan sekitar tahun 2010/2011 dikarenakan terkendala masalah biaya yang sangat besar untuk mengirimkan paket-paketnya ke seluruh dunia.

Alasan-alasan lainnya yang bikin aku jatuh cinta adalah karena Ubuntu memiliki kelebihan-kelebihan tersendiri, yaitu

  1. Gratis
    Linux = Open Source, Open Source = Gratis! Sangat cocok buat kalian yang ingin hijrah dari Windows bajakan, namun belum punya dana untuk membeli yang original.
  2. Easy to Use
    Dibandingkan distro linux yang lain, Ubuntu termasuk distro yang mudah digunakan. Cocok bagi pemula yang baru nyemplung di dunia Linux.
  3. Ringan
    Salah satu yang bikin aku betah di Ubuntu adalah karena OS ini cenderung lebih sedikit memakai resource daripada Windows 10. Dulu di laptop kentangku, dengan spek Intel Celeron, RAM 4GB dan masih memakai HDD biasa, aku merasa lebih lancar & lebih responsif di Ubuntu daripada Windows 10. Mungkin dengan adanya Ubuntu ini bisa menjadi solusi buat kalian yang memiliki laptop spek kentang, dan sangat jengkel atas keleletan dari Windows 10.
  4. More Secure
    Menurut laporan AV-Test, pada tahun 2016 hampir 70% malware ditemukan di sistem operasi Windows, menyusul OS android 5%, dan sisanya OS lainnya. Jika kalian lelah berhadapan dengan komputer yang virusan, cobalah menggunakan Linux, salah satunya distro Ubuntu.
Itulah sedikit cerita mengenai percintaanku kepada Ubuntu, dan berbagai macan alasan-alasan yang membuat aku mencintai Linux Ubuntu. Menurutku, untuk membangun sebuah cinta tidaklah harus selalu memberikan hadiah yang mahal-mahal untuk orang yang dicintai, or any bulls**t you can mention here. Namun, cukup hadiahkan sesuatu yang sangat berarti. Walaupun kecil, tapi mengandung makna yang besar sehingga akan selalu terkenang oleh seseorang yang dicintai itu #eyaaak.

Mungkin pada kesempatan selanjutnya, aku bakal membahas tentang bagaimana penampakan Ubuntu ini di 10 tahun yang lalu, alias a look back of Ubuntu Lucid Lynx. Kenapa aku pilih versi ini dibandingkan yang lain? Ya karena versi inilah yang menjadi first love-ku dengan Linux. Intinya, pantengi saja blog ini, and see you in the next time. Ciao!

bm

Nemo enim ipsam voluptatem quia voluptas sit aspernatur aut odit aut fugit, sed quia consequuntur magni dolores eos qui ratione voluptatem sequi nesciunt.

9 comments

  1. Wah heeh jadi pengen juga nih, tapi Ubuntu kalo diterjemahin versi bahasa nya jadi, kamu buntu:v kwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ubuntu ada versi ringannya, namanya Xubuntu dan Lubuntu. Nah yang satunya itu ngga perlu diterjemahin pun sdh tau artinya bakal jadi apa wkwkwk

      Hapus
  2. Lertama, aku seperti nya mengenal si Ukhti jilbab pink #eaaa

    Ok lanjut, serius. Aku jg sekrng jadi pemakai Linux, setelah laptopku rusak Hard disknya dan tentu nya, OS Windows nya jadi hilang. Padahal OS Windows 8 di laptop itu adalah ori. Sedih sekalii, hikss :((

    Kenapa aku pake Linux, yaa krn gratis dan open source. Jadi, kita pake nya halal. Daripada pake windows, tapi bajakan malah tidak berkah. Sebab, laptop ini aku gunakan untuk cari duit, jd komponen aku cari duit aku akan usahakan semuanya harus halal #eaa

    Itu lah kenapa, ketika ada teman yg menawarkan. Sini, aku installkan windows bajakan. Aku tak mau, biarlah nanti kalo ada rejeki beli laptop baru, OS Windows yg ori.

    Selain itu, jg mengenai office. Mayoritas kita pake Office yg bajakan. Aku pun waktu itu masih, wkwkk. Kemudian, ada seorang guru yg menasihati, pake yg lain saja. Yg open source. halal. Jd kini, aku kalo ngetik pake WPS, atau langsung pake Google docs.

    Nanti lah kalo ada duit, beli office. Hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Biasanya laptop-laptop modern, lisensi Windows nya sudah tertanam di dalam BIOS. Tinggal run setup windows, dan Windows langsung mendeteksi lisensi tersebut, and then windows auto activated dan balik original.

      Kalo windows 8 mmg agak ribet mencari versi yang tepat, karena windows 8 ini sendiri ada yg versi Windows 8 Home, Pro, Home SL, Home SL for Sony, bla bla dan tiap versi punya file ISO yang berbeda. Salah download ISO, lisensi ngga kedetek wkwk.
      Solusi mudah? Install windows 10. (Kayaknya tema ini good jadi konten blog ya?)

      Yups sepakat. Mari kita move on dari bajak-bajakan, biar laptop yang dipakai berkah dan vvarokah. Kalo punya duit monggo beli yg orinya :D

      Hapus
  3. Wah semoga betah mencintai Ubuntu bang hehhe

    BalasHapus
    Balasan
    1. InsyaAllah ngga move on wkwk although it's good practice to try another operating systems.

      Hapus
  4. Aku gak ngerti sejujurnya masalah OS ini😅. Tapi sepertinya ini bisa solusi untuk kebuntuan mengahadapi laptop kentang yang loading idupnya nya aja bisa lebih dari 3 menit ini🤣.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebenarnya banyak obat buat nyembuhin laptop dari penyakit lelet, terutama booting yang lama. Mungkin bisa aku jadiin konten ya?

      Hapus
ads
avatar
Admin THE-Mangcoy Online
Welcome to THE-Mangcoy theme