Kuliah Itu Tidak Menyenangkan!

"Kuliah itu tidak menyenangkan! Untuk apa susah-susah berangkat kuliah, tapi ujung-ujungnya jadi karyawan."

"Mending gue dong, tes ikatan dinas, satu tahun pendidikan, jadi PNS deh. Cewek mana yang ngga mau sama gue. Pada elo, kuliah lama-lama empat tahun masih menganggur!"

"Untuk apa sih kuliah, gue yang SMK aja udah kerja di perusahaan benefit. Dahlah mending lo ternak lele aja pada ngabisin waktu di kampus!"

"Kuliah itu susah, dosennya galak-galak, katingnya pada bengis. Nanti lo di ospek lo mau jadi bahan bully-an senior?"

Sering mendengar seutas kalimat seperti itu, kawan? Ya, aku juga sering. Bahkan aku pernah mengalami sendiri percakapan yang kurang lebih sebagai berikut.

Paman: "Masuk mano kau Dan?" Lulus unversitas dimana kamu, Dan?

Aku: "Masuk UNSRI layo, om." Lulus di UNSRI Indralaya, om.

Paman: "Oh." (dengan pandangan sinis meremehkan) "Jurusan apo?" Oh, ambil jurusan apa?

Aku: "Teknik Elektro, om."

Paman: "Oohh...."

Aku: (ngedumel dalam hari) "Iya om tau anakmu baru saja menyelesaikan pendidikan AKPOL-nya."

Apa yang kalian rasakan apabila kalian mendengarkan percakapan semacam diatas? Minder? insecure? Merasa kalian telah mengambil pilihan yang salah? Yaps, menurutku sah-sah saja jika kalian punya pemikiran yang demikian. Ini dikarenakan secara sekilas, mereka terlihat "lebih sukses" daripada kita yang mengambil rute menjadi seorang mahasiswa. Mengapa demikian? Coba deh lihat emang berapa banyak sih mahasiswa yang sudah memiliki penghasilan sendiri? Mungkin ada beberapa mahasiswa yang memiliki usaha sendiri, atau yang telah punya gaji dari hasil kerja sampingannya, atau bahkan ada yang mendapatkan uang secara cuma-cuma dari beasiswa yang diikutinya. Tapi coba bandingkan deh, berapa persen sih mahasiswa yang telah memiliki penghasilan sendiri dibandingkan dengan yang belum? 

Mereka-mereka yang "belum berpenghasilan" itu boleh jadi pada fokus dengan organisasi yang diikutinya, atau mengikuti komunitas-komunitas baik di lingkungan kampus maupun di luar, atau fokus dengan tugas-tugas kuliahnya yang menumpuk. Jangan kan mau kepikir punya usaha, dengan kegiatan sehari-harinya saja mereka sudah keteteran. Pagi ngampus, siang organisasi, sorenya kesana-kemari nemuin orang-orang penting, malamnya begadang ngerjain tugas. Duh..

Kuliah vs Ngga Kuliah!

Menurutku, contoh percakapan diatas bukanlah hal yang salah. Benar kok mereka. Boleh jadi mereka sangat bangga dengan hasil jerih payahnya, sehingga di usia muda mereka bisa punya penghasilan sendiri yang cukup menjanjikan. Apalagi para teman-teman yang melanjutkan pendidikan ikatan dinas dari instansi-instansi negeri. Itu mereka kalo udah lulus, (mayoritas) auto jadi PNS dong! Orang tua mana yang menolak calon menantu PNS. Apalagi main ke rumah doi pake seragam kebanggaannya wkwk. Mahasiswa? Sering mendengar istilah SARJANA NGANGGUR? Nahh dari frasa itu aja kalian sudah dapat bayangannya gimana wkwk. Memang sih ngga sedikit alumni diploma/sarjana yang sudah menjadi orang sukses, baik sukses di jabatan karirnya maupun sukses berwirausaha. Tapi yang masih jadi pengangguran? Banyak broo wkwkk! Terutama bagi seorang freshgraduate, mencari pekerjaan menjadi tantangan sendiri bagi alumni muda.

Ya sih ngirim curriculum vitae ke perusahaan yang ingin dilamar bukan suatu pekerjaan yang sulit, tetapi untuk menjadi yang terpilih di antara ratusan pelamar yang lain bukanlah perkara yang mudah. Hati ini terombang-ambing di atas ombak ketidakpastian dari perusahaan. Kalaupun dapat panggilan, kita harus melewati tes tertulis, tes wawancara, dan tes-tes yang lainnya sesuai kebijakan masing-masing perusahaan. Kalau lulus? Alhamdulillah, berangkat, cus, kerja, dapet duit! Kalo ngga? Yeah we have to restart that thing again, kirim CV lagi, belajar psikotes lagi, belum lagi kepala pusing akibat dompet kosong yang bikin kita ngga bisa nongkrong-nongkrong lagi sama teman, mau beli kuota minta duit dengan emak rasanya sungkan, ngeliat feed Instagram teman-teman yang pada posting kegiatan di kantornya, dan menahan malu akibat gunjingan tetangga yang tak kunjung berakhir. Duh benar-benar menguras emosi.

Mungkin jalan cerita diatas bakal berbeda jika kalian mempunyai orang dalam mengambil langkah menjadi seorang entrepreneur. Nantinya juga kalian bakal dihadapkan dengan dua kemungkinan, menjadi sukses, atau gagal. Kalau sukses? Ya Alhamdulillah, disitulah jalan rezeki kalian. Kalau gagal? Either you try again, or give it up. Aku ngga bakal membahas tentang kiat-kiat sukses menjadi seorang pengusaha disini, karena aku pribadi ngga begitu paham dengan dunia wirausaha.

Dari beberapa penjelasanku diatas, kuliah itu tidak menyenangkan. Setuju ngga? Masuk tesnya udah susah, pas ngejalaninnya bakal menghadapi seabrek kegiatan yang super menyibukan, belum lagi skripsian yang harus pantang menyerah PDKT dengan dosen, dan ketika udah lulus, ngga menjamin menjadi orang sukses! Really? Mungkin sampai sini sebagian dari pembaca akan mengamini tulisanku tersebut, dan yang masih berstatus mahasiswa seketika merasa kuliah yang telah dilakukannya is useless. Tapi tidak secepat itu, bro. Sebenarnya kuliah itu tidak seburuk apa yang kalian bayangkan, dan apa-apa yang orang lain banggakan dengan kalian itu tidak seindah apa yang kalian pikirkan.

Dari beberapa teman kuliah yang sempat aku wawancarai, ada dari mereka mengaku benar-benar tidak berminat di pendidikan ikatan dinas pemerintah. Mereka mengaku tidak mau terikat dengan suatu instansi, dan lebih memilih kebebasan dalam melakukan pekerjaan. Kebebasan ini bukan berarti menjadi seorang yang liberal dalam hal negatif, melainkan lebih bebas dalam mengekspresikan pemikirannya, kekreatifannya, dan bahkan tidak mau terkekang oleh suatu instansi. Ada juga beberapa orang yang memilih langkah menjadi seorang mahasiswa akibat jurusan yang dipilihnya itu sesuai dengan hobi dan passion-nya. Apakah yang demikian membuat mereka dipandang "lebih rendah" daripada mereka yang telah menjalankan pendidikan di instansinya itu?

Aku juga punya teman yang baru saja lulus dari SMK, dan tidak berminat untuk melanjutkan pendidikannya. Ia lebih memilih untuk berwirausaha. Sebenarnya beliau ini telah lontang-lantung menjelajahi Facebook Marketplace, demi mendapatkan untung dari hasil jual-beli HP. Ya keliatan sih sudah kelihatan bakat jual-beli yang dimilikinya. Dan ada juga loh yang lulusan SMK, langsung kerja di sebuah perusahaan yang cukup benefit, dan telah menduduki jabatan yang tak bisa dianggap remeh. Apakah hal yang demikian juga membuat mereka dipandang "lebih rendah" daripada mereka yang melanjutkan pendidikannya ke jenjang Diploma/Sarjana?

Segala Kegiatan Harus Diawali dengan Niat Baik

Menurutku, segala tindakan yang kita lakukan itu tergantung dengan niatnya. Ingatlah hadist dari Rasulullah Shalallahu 'alayhi wassalam yang berbunyi sebagai berikut.

ٍعَنْ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Dari Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah.” (HR. Bukhari, Muslim, dan empat imam Ahli Hadits)

Hadist tersebut mengingatkan kita bahwa segala perbuatan, pekerjaan, dan tindakan bergantung dengan niatnya. Hadist itu juga menjelaskan apapun yang kita kerjakan, hasil yang kita peroleh tergantung apa yang telah kita niatkan. O ya hadist tersebut sebenarnya disabdakan oleh Rasulullah ﷺ karena para sahabat nabi bertanya kepada Beliau mengenai perilaku seorang pemuda yang dijuluki sebagai Muhajir Ummu Qays, yang mana pemuda ini mau berhijrah ke Kota Madinah demi menyusul perempuan yang ia cintai yang ikut hijrah ke Kota Madinah.

Artinya apa? Kalau kita berkaca dengan hadist di atas, kita mesti mempertanyakan mengapa sih kita harus bekerja, harus melanjutkan pendidikan, atau harus melakukan segala macam kegiatan yang telah dilakukan. Mari kita renungi, tanya ke diri masing-masing. Untuk apa aku kuliah? Untuk apa aku bercita-cita menjadi polisi? Untuk apa aku berwirausaha seperti ini? Untuk apa aku ikut organisasi dakwah di kampus? Untuk apa aku harus kerja di perusahaan ini? Semua pertanyaan itu hanya bisa dijawab oleh diri kita masing-masing. Tanya kepada hati kecil kita masing-masing, sebab sebuah hati tak mampu berbohong. Mulut boleh bercakap baik-baik, tapi dalam hati, they never lie. Intinya, semua pilihan tentang post student life itu ngga ada yang baik, kalau niatnya juga ngga baik, and vice versa.

Ingatlah kawan, kalian boleh bercita-cita menjadi polisi, tentara, atau abdi negara lainnya. Tapi jangan lupakan tujuan utama menjadi seorang abdi negara. Kalian itu diamanatkan untuk menjadi pelayan negara, baik kepada rakyat maupun pemerintah. Kalau niat kalian sudah berbanding lurus dengan tujuan tersebut, Insya Allah kalian akan menjadi seorang abdi negara yang terbaik. Tetapi jika niatnya hanya sekedar untuk memperoleh gaji yang stabil dan besar, ya ngga heran kalau banyak praktik KKN di instansi pemerintahan. Atau jika niatnya hanya untuk gagah-gagahan, merasa ingin diakui hebat karena seragam yang dikenakannya, atau bahkan dengan seragam yang dipakainya hanya serta merta untuk memikat para kaum hawa, ya ngga heran juga sih orang-orang seperti ini menjadi arogan di hadapan masyarakat.

Hal tersebut juga berlaku buat kalian, wahai para mahasiswa. Apa sih niat kalian berkuliah? Mengapa kalian harus "men-status-kan" diri kalian menjadi mahasiswa? Apakah hanya sekedar memenuhi tuntutan orang tua? Atau apakah kalian hanyalah ikut-ikutan teman, terlebih ngikutin si pacar yang kuliah di sebuah kampus ternama? Atau hanya sekedar menempel gelar sarjana di belakang nama Anda? Menurutku, menjadi seorang mahasiswa haruslah memiliki tujuan yang sangat mulia. Status 'maha' di belakang siswa itu terlalu suci jika kalian sandingkan dengan tujuan-tujuan receh yang ngga seberapa itu. Kalau kuliah hanya sekedar untuk cari ilmu, ngapain susah-susah ambil jurusan Teknik Sipil padahal seorang tukang (red: kuli bangunan) yang ngga tamat sekolah aja bisa membangun sebuah rumah, ngapain juga susah-susah masuk jurusan pertanian, praktikum sana-sini, toh petani kampung yang notabene ngga sekolah juga sukses-sukses aja merawat lahan pertaniannya yang berhektar-hektar itu.

Kuliah Itu Keren!

Menurut pendapatku pribadi, dengan menjadi mahasiswa, kalian tidak hanya sekedar diajarkan ilmu pengetahuan sesuai jurusan apa yang kalian pilih, melainkan beberapa softskill-softskill yang kelihatannya kecil namun sangat besar dampaknya. Boleh jadi kalian membandingkan antara Tukang bangunan vs Mahasiswa Teknik Sipil, tapi mereka yang mengenyam pendidikan di kampus itu memiliki ilmu bagaimana cara memanajemen waktu, bagaimana cara bernegoisasi dengan seseorang, dibuktikan dengan keandalan mahasiswa me-lobby dosen-dosennya, dan kemampuan mahasiswa dalam berkomunikasi dengan orang lain yang tetap memperhatikan attitude baik dengan orang yang lebih tua maupun yang lebih muda. Tidak hanya itu, kampus juga menyediakan wadah bagi kalian untuk menyalurkan hobi Anda. Suka main basket? Ikuti klub basket yang biasanya ada di masing-masing fakultas. Suka dengan hal-hal yang berbau organisasi dan menyampaikan aspirasi? Bisa ikut organisasi semacam BEM, LDK, atau Himpunan Jurusan. Hobi menulis? Ikuti saja lembaga pers yang ada di kampus, atau ngikutin komunitas-komunitas blogger seperti Blogsri contohnya. Ingin punya usaha dan ngga ada modal? Kuy ajukan ide usaha anda di Program Mahasiswa Wirausaha yang biasanya diadakan setiap tahun. Masih kurang puas? Tuh kalau kalian udah jadi mahasiswa di jurusan yang kalian pilih, kalian sudah dianggap keluarga oleh kakak-kakak tingkat yang udah dulu berkuliah di sana. Dampaknya, kalian akan mendapatkan pacar dengan mudah makin banyak relasi-relasi dengan orang lain, terutama dengan para alumni, sehingga makin banyak informasi penting nan bermanfaat tentang kehidupan di luar sana. Belum lagi kalau kalian ikut organisasi/komunitas, duh makin banyak deh relasi dengan rekan-rekan satu organisasi. Ingatlah pepatah bijak yang dibuat oleh aku sendiri, semakin banyak relasi dengan orang lain akan memudahkan kita menemukan pintu-pintu untuk mencapai kesuksesan kita.

Numpang eksis ya kak


Kesimpulan

Menurutku, kuliah itu tidak seburuk apa yang dipikirkan oleh kebanyakan orang. Perihal Kuliah vs Sekolah Ikatan Dinas vs Kerja itu hanyalah sebuah preferensi masing-masing. Ngga ada pilihan yang terbaik maupun yang terburuk. Semua itu bergantung dengan bagaimana niat yang kalian bangun ketika kalian menentukan pilihan kalian masing-masing. Untuk apa Anda menjadi orang nomor satu di dunia, tapi niat anda hanya untuk memperkaya diri Anda sendiri dan berbuat zholim dengan orang-orang yang lemah. Boleh jadi Anda merasa bahagia sekarang, namun Allah subhanahu wata'ala tak tidur. Ia senantiasa mendengarkan do'a orang-orang yang terzholimi. Entah karma macam apa yang akan mendatangi dikau jika engkau tak kunjung bertobat. Intinya, ikuti kata hati kalian, ikuti sesuai hati naluri kalian yang manalah kira-kira sesuai dengan kemampuan dan passion kalian masing-masing. Dan yang penting, jadikan pilihan kalian itu menjadi ajang berbuat baik kepada lingkungan sekitar. O ya, apapun niat baik yang telah kalian niatkan, jangan lupa selalu disertakan niat Karena Allah subhanahu wata'ala (bagi ente yang muslim).

So, benarkah kuliah itu tidak menyenangkan? Jawabannya tidak. Kuliah itu menyenangkan! Tergantung bagaimana kalian mendesain kegiatan kuliah kalian menjadi menyenangkan. Tujuan boleh satu, yaitu menjadi seorang wisudawan yang cerdas. Namun jalan yang dipilih, sebisa-bisa kalian memilihnya agar perjalanan yang Anda tempuh menjadi menyenangkan. Ciao!

Kuliah Itu Tidak Menyenangkan! Kuliah Itu Tidak Menyenangkan! Reviewed by Muhammad Aldan Ihsan Darmawan on Oktober 28, 2020 Rating: 5

15 komentar:

  1. Bener kak.. Hidup itu pilihan.. Yang milih ya kita.. Karena kita yang memilih jadi tak usah minder dengan status orang lain..

    Orang lain bisanya cuma menilai.. Yang jalaninnya ya tetep kita.. Wkwkw tetep semngat pokoke..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju. Tetap semangat dan jangan menyerah walaupun ribuan rintangan menghalangi.
      Kalo ada yang masih menilai mahasiswa itu jelek, tempeleng saja kepalanya 😎

      Hapus
  2. Bagiku, kuliah itu menyenangkan. Banyak hal baru yang kudapat. Hal baru yang tentu saja tak mungkin kudapat kalau aku tak kuliah. Kuliah itu adalah cara, langkah, dan salah satu proses untuk menggapai tujuan sebenarnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setujuuu. Dengan kuliah bisa membuka peluang-peluang emas untuk mendekatkan diri kita ke suatu kesuksesan. Di kampus juga bisa menjadi ajang cari jodoh karena banyak pria tampan #eeh

      Hapus
  3. Bagus tidaknya suatu apapun itu tergantung pada tolak ukurnya, ketika dia membandingkan si mahasiswa yang begitu banyak kekuranganya dengan si ikatan dinas yang dilihat begitu banyak lebihnya iyah gitu akhirnya.... Aku UNSRI kampus negeri teman disekitaran rumahku kampus swasta lantas iyahkah mereka menyebutku sebagai orang yang lebih baik? bisa jadi itu benar. Tentang lingkungan yang tidak bisa kita handle semuanyaaa. Mantep kali kak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaps, karena hal-hal tersebut sering terjadi di lingkungan sekitar kita. Apalagi kalo emak udah ngebanding-bandingin anak tetangga yang sekolah ikatan dinas, rasanya mau minggat dari rumah saja. Berhubung takut jadi gembel yaudah batal minggatnya

      Hapus
  4. yok percaya sama proses yok semangat, menginspirasi ini buat aku yang lagi skripsian

    BalasHapus
  5. Omongi samo uong itu;
    Your father head!!

    BalasHapus
  6. Nice kak, sangat membangkitkan semangat saya lagi

    BalasHapus
  7. Segala amal tergantung niat, termasuk pilihan buat kuliah atau engga ya kak.

    Well, kalau tujuan kuliah emang biar dapet kerjaan keren nan mentereng nampaknya akan banyak kecewa ya dan hitung hitungan, beda kalau dicari yang lain. Aku pribadi kuliah hanya karena ingin jadi manusia yang lebih baik aja. Yang punya pola pikir baik dan benar.

    BalasHapus
  8. Masa S-1 adalah saat dimana aku benar-benar dapat pencerahan yg benar² mencerahkan. Ndak Mulu perihal cuan. Kuliah itu meningkatkan pola pikir kita. Yang mana besar kemungkinan (maaf) ikatan² dinas tidak menawarkan itu.

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.