Solo Traveler

Traveling merupakan suatu kegiatan yang menyenangkan bagi kebanyakan orang. Bagaimana tidak, kita bisa mengunjungi kota maupun desa yang belum pernah kita singgahi sebelumnya dan menemukan spot-spot wisata menarik di dalamnya. Kalaupun berkunjung ke spot wisata tidak memungkinkan, merasakan suasana sekitar sudah menjadi kesenangan tersendiri di dalam hati. Tak heran jika kegiatan traveling dijadikan hobi bagi beberapa orang. Namun kegiatan pemuas hati tersebut, kalau tak mau disebut dihentikan, mesti ditunda dahulu. U know-lah siapa dalang di balik kekacauan yang menimpa dunia ini. Kalau dulu siapa pun bisa berpergian kemana saja asalkan duitnya ada, namun sekarang pergerakan kita untuk traveling mesti dibatasi, atau bahkan mesti mengikuti beberapa protokol kesehatan yang telah melekat di bagian kehidupan kita sehari-hari.


Tepat dua minggu yang lalu aku terpaksa harus melakukan perjalanan ke luar kota, tepatnya menuju Ibukota Negara Indonesia, Kota Jakarta. Aku berangkat ke sana bukan karena akunya yang sedang gabut di Palembang, iseng-iseng beli tiket pesawat kemudian jalan-jalan keliling Jakarta, melainkan karena ada panggilan tes tertulis dan wawancara kerja di salah satu anak perusahaan BUMN berkelir merah. Aku sendiri heran, yang mana perusahaan-perusahaan lain sudah menggunakan layanan daring untuk tesnya, ini malah harus ke lokasi. Yang lebih mengherankan, Sabtu malamnya aku kirim lamaran kerja ke email hrd-nya, eh tau-tau Minggu paginya dapat panggilan buat tes interview di lokasi. Hmmm cepat sekali ya, dan mengherankan juga wwkwk. O iya interviewnya akan dilaksanakan pada hari Selasanya nanti. Everything goes so quickly.

Ragu, bimbang, berangkat-tidak berangkat-tidak. Hanyalah dua opsi tersebut yang ada di pikiranku pada waktu itu. Memang sih menumpangi pesawat bukanlah hal yang belum pernah aku lakukan, sehingga aku paham betul alur-alur segala prosesi selama di bandara sebelum keberangkatan. Namun yang aku khawatirkan ialah ini merupakan pengalamanku pertama kali bepergian jarak jauh hanya seorang diri, terlebih-lebih lokasi yang akan aku kunjungi ini merupakan kota besar yang berbeda pulau dari rumah tempat aku tinggali.

"Ini kesempatan loh, Dan. Ingat ente itu pengangguran, gak baik nolak rezeki," begitulah kurang lebih gumamku di dalam hati. Yo wes, karena pertimbangan itulah aku nekat untuk tetap berangkat. Itung-itung jalan-jalan ke Ibukota, biar dikata anak hits *ehh.

There's Butterfly in My Stomach

Dag dig dug, kurang lebih begitulah bunyi jantungku yang berdegup kencang. Bukan karena seorang gadis cantik yang sedang duduk di sampingku, melainkan rasa takut dan cemas mengenai keberangkatanku esok. Berangkat sendiri, jalan sendiri, tanpa pendamping seorang pun. Untungnya di Jakarta ada rumah Oom (adiknya ibu) yang bersedia menampungku selama di Jakarta, dan yang lebih menguntungkannya lokasi kantor tempat aku wawancara tidak berjauhan dari rumah Oom. Paling tidak untuk urusan inap-menginap sudah aman. Kalau kata orang Palembang, tinggal berejo mak mano besok berangkat dari bandara.

Hari Minggu siang, Alhamdulillah tiket pesawat sudah dibeli. Hidup di zaman modern seperti sekarang memang sangat memudahkan sekali. Beli tiket bisa duduk manis di rumah saja. Hanya modal handphone, m-Banking yang ada saldonya, terus cusssss besok berangkat. Ya, aku berangkat pada hari esoknya, hari Senin pada jam 15:55 WIB. Ingat, keberangkatanku ini masih ditengah-tengah musim pandemi COVID-19, so mengikuti aturan penerbangan yang telah ditetapkan di Indonesia aku mesti mempersiapkan bukti negatif hasil rapid antigen. O ya masa berlaku rapid antigen ini hanya selama 48 jam. Lewat dari situ? Kita mesti tes lagi.

Mengingat keberangkatanku di sore hari, aku memutuskan pergi ke klinik kesehatan untuk rapid antigen pada hari Senin siangnya saja, agar hasil tes tersebut bisa digunakan kembali ketika aku mau pulang. Ya, aku merencanakan hari Rabu nanti aku sudah kembali ke Palembang. Padahal inginlah sedikit berlama-lama di Jakarta untuk sekedar berwisata sedikit di Ibukota. Tetapi mengingat masa berlaku swab test tersebut hanya 48 jam dan uangnya sayang untuk dipakai swab tes lagi, jadi apa boleh buat, dua hari berada di kota orang cukup menjadi "trip"-ku kali ini.

There's butterfly in my stomach, itulah yang kurasakan pada saat sebelum keberangkatan. Cemas, gugup, takut, semuanya bercampur aduk. Takut nanti apakah aku bakal sampai selamat di tujuan? Takut apakah aku bakal baik-baik saja di sana, mengingat ini merupakan perjalananku di sana? Nanti dari bandara ke rumah Oom naik apa? Ditambah isunya swab test itu menyakitkan karena hidung mesti dicolok-colok. Duhhh kepikiran yang berujung overthinking. Sampai-sampai aku berkonsultasi terlebih dahulu dengan Cees Kntl sahabatku, Dodo, yang telah dahulu bepergian ke tanah Jawa menggunakan pesawat. Mulai dari mengenai swab test hingga pilihan transportasi di bandara. Yang paling kuingat kata-kata Dodo mengenai swab test ialah "Saat rapid test itu tidak terlalu sakit, kayak lagi ngupil tapi lebih dalam". Dan dari perkataannya itu benar adanya. Rasa takut akan kesakitan saat rapid tes ternyata tidak terbukti. "Seperti mengupil, tetapi lebih dalam" itulah yang kurasakan hahaaa. Ada-ada saja.

Jam pun telah menunjukkan pukul 14:30, dan momen itulah di saat aku meninggalkan rumah untuk menuju ke bandara. Untung ada seorang teman dekat rumah yang bersedia menjadi driver pribadi untuk pergi ke bandara. Jarak antara rumah ke Bandar Undara Sultan Mahmud Baddarudin II pun dapat ditempuh kurang dari 15 menit, sehingga tak mesti tergesa-gesa. Masihkah perasaan cemas itu menghantui? Ya, masih. Selama di perjalanan aku bermunajat kepada Allah subhanahu wata'ala, "Ya Allah, lindungilah hamba selama di perjalanan," seakan-akan memberikan sedikit ketenangan di dalam hatiku. Kutengok lingkungan sekitar, seakan-akan menghayati suasana Kota Palembang. Is this gonna be my last moment? Na'udzubillahi min dzalik...

Sesampainya di bandara, aku berpamitan dengan Ibuku yang turut mengantar serta temanku yang telah sudi mengantarku pada saat itu. Terdapat sedikit perbedaan selama prosesi ketika akan memasuki ruang tunggu. Biasanya kita langsung masuk-masuk saja ke dalam ruangan guna mengambil boarding pass, tetapi kini kita mesti validasi hasil rapid tes terlebih dahulu. Awalnya aku bingung, "Ini mesti kemana sih, kok gak ada petunjuk arah masuknya? Loh kok ini ada mesin nomor antrean? Tapi yang ngantre sepi-sepi aja". Sempat bingung, kayak orang kebingungan padahal memang lagi bingung, tetapi kalau diperhatikan, pihak Bandara SMB II memberikan pita pembatas antrean dengan jalur sesuai prosedur langkah-langkah yang harus dilakukan. Hmmm, menarik. Sangat membantu terutama bagi yang belum pernah naik pesawat di musim pandemi yang mengharuskan mengikuti prosedur-prosedur tertentu agar tidak kebingungan layaknya anak yang hilang.

Aku melangkahkan kaki menuju validasi hasil rapid tes, dan kedua orang yang mengantarku tadi pun pergi meninggalkanku sendiri. Fix, my solo adventure is just started. Masuk ke bandara, scan X-Ray barang bawaan, dan dilanjutkan ambil boarding pass serta menaruh bagasi. Lagi-lagi aku baru tahu bahwa kini kita bisa mencetak boarding pass secara mandiri. Caranya? Cukup mengetikkan kode booking di komputer yang tersedia, kemudian boarding pass akan tercetak. Praktis sekali, ya. Singkat ceritanya, aku kemudian naik ke ruang tunggu, masuk pesawat, terbang, and then Alhamdulillah sampai dengan selamat di Ibukota Negara Republik Indonesia.

OTW dulu gaes wqwqq.


Actually, It Isn't Scary At All

Dimulai dari segala prosedur untuk naik pesawat, menunggu seorang diri di ruang tunggu, duduk bersama dua orang asing hingga keluar dari bandara tujuan ternyata tidak semenakutkan yang aku kira. Naik taksi bandara ternyata tidak seseram apa yang dikatakan oleh review dari pengguna Google. Just FYI aja nih, jadi aku di Jakarta turunnya di Bandar Udara Halim Perdana Kusuma. Untuk pilihan transportasi umum pun menurutku sudah sangat rapi dan teratur. Mau pakai taksi online? Tanpa perlu khawatir mamang sopir taksolnya  nanti digebukin oleh penunggu taksi bandara karena di sana ada Grab Point khusus buat kamu yang mau pesan GrabCar dari bandara (GrabBike entahlah apakah bisa atau tidak). Mau naik taksi bandara? Ada tempat antrean khusus untuk naik taksi yang mana sistem taksi disana menggunakan FIFO (First In First Out). Jadi, tak mesti kebingungan karena dipanggil sana sini oleh para sopir taksi dari berbagai armada taksi. Semuanya sangat teratur di sistem FIFO tersebut. 

"Bird's eye view" yang menggambarkan betapa padatnya penduduk Jakarta. Eh tapi kok Bumi keliatan datar?

Tapi hati-hati juga dengan taksi gelap di sana, loh. Aku sendiri hampir kemakan buaian tipuan dari taksi gelap tersebut. "Taksi, dek?" begitulah panggil seorang bapak yang memakai seragam layaknya taksi resmi di depan pintu kedatangan. Aku tunjukkan alamat tujuan yang ingin aku tuju. Sontak, si bapak menyebutkan harga yang, untuk ukuran jarak tak begitu jauh, tapi harganya hampir mau ngalahin tiket pesawat Palembang - Jakarta. "Nggak dulu, pak," begitulah kurang lebih responsku kepada bapak itu. Komunikasi antara aku dengan oom tetap berlangsung, menanyakan pilihan moda transportasi terbaik di bandara, alamat, rute-rute yang mesti ditempuh, serta sekedar memonitor posisi di mana aku berada.

Yups, sesuai yang aku sebutkan sebelumnya, aku menaiki taksi resmi dari bandara. Waktu itu aku kebagian Pool Taksi Puskopau, yang mana sebuah koperasi yang menaungi taksi-taksi resmi di Bandara Halim Perdana Kusuma. Kata review-review di Google, taksinya pada nggak ramah. Nyatanya? Aku kebagian sopir taksi yang ramah, loh! Bapaknya sangat enak di ajak cerita, membahas mengenai lika-liku kehidupan di Jakarta, bahkan si bapak yang awalnya ingin lewat jalan raya biasa pun mau menuruti keinginanku untuk lewat tol saja. Terlebih-lebih, ketika akan sampai ke tujuan, si bapak tetap sabar meladeni aku yang "agak kebingungan" ketika membaca petunjuk arah di Google Map yang mengharuskan kami melewati gang-gang sempit untuk ukuran mobil. O ya perjalananku tersebut memakan waktu kurang lebih 45 menit.

Taksi Puskopau dengan mobil Nissan Grand Livina. Dibandingkan Avanza yang sering aku bawa, kecepatan 80 km/h masih nyaman banget.


So Much Fun To Be Solo Traveler

Aku tiba di lokasi rumah Oom tepat pada saat azan magrib berkumandang. Tak banyak yang aku lakukan pada saat itu, hanya sekedar meletakkan barang bawaan ke kamar, bersih-bersih diri, dan beristirahat agar tetap prima untuk tes di hari esoknya. Barulah esoknya, hari Selasa, menjadi kesempatan tersendiri bagi aku untuk sedikit menikmati suasana Kota Jakarta.

Beruntung Jakarta merupakan sebuah kota metropolitan nan sangat maju, sehingga tak sulit rasanya untuk mencari mamang ojek via daring yang bersedia mengantarkan aku ke lokasi tes interview, walaupun kondisi cuaca sedang hujan rintik-rintik. Memang benar, kantor tempat aku tes ternyata tidak jauh dari tempat aku menginap. Naik ojol, 10 menit pun sampai, which is nice, tak payah harus turut menikmati kemacetan dan keramaian khas Jakarta.

Di sesi pertama merupakan tes tertulis, tak mesti aku jelaskan secara detail mengenai tes ini. Yang pasti semuanya bisa aku tuntaskan dengan lancar. Jam pun menunjukkan pukul 12 siang, dan azan salat zuhur sudah berkumandang. Mbak-mbak yang mengawasi kami sedang tes mempersilahkan kami meninggalkan kantor untuk istirahat dengan catatan jam 1 nanti mesti balik lagi ke sini. "OK baik," kataku. Hal pertama kali yang aku cari adalah masjid. Suara azan terdengar cukup lantang di kantor ini, pasti ada masjid yang tak jauh dari sini. Dan benar saja, di seberang jalan aku melihat sebuah bangunan yang kalau dilihat dari ornamen-ornamennya pasti bangunan masjid, karena desain eksteriornya kental banget dengan nuansa islami. Naik JPO, sesampainya di sisi lain jalan, sempat bingung ini yang mana sih gerbang masuknya. Sempat mondar-mandir bagaikan anak hilang, sampai-sampai diliatin oleh bapak-bapak yang sedang asyik menongkrong di warteg. Tak lama dari situ barulah ketemu "gerbang masuk" yang tepat untuk menuju "masjid" tersebut, dan dengan PD-nya aku berjalan menuju masjid tersebut. Barulah melangkahkan kaki masuk halaman "masjid", tiba-tiba langsung ditegur oleh seorang satpam yang sedang berjaga, "Mau ke mana dek?." Sontak aku menjawab, "Mau ke masjid." Si bapak langsung merespons, "Bukan, ini kantor." Loh?? Kantor? Bangkeeee malu banget wkwkwkwkw mau disembunyikan di mana wajah ini. Saking malunya aku langsung meninggalkan bangunan tersebut cepat-cepat.

Sebuah kantor yang awalnya aku kira masjid yang megah

Untung ada teknologi Google Maps. Nyasar? Tinggal tanya Mbah Google. Tak lama dari momen memalukan tersebut aku menemukan sebuah masjid yang jaraknya lumayan jauh jika mesti ditempuh dengan jalan kaki. Nasiib nasiib... tapi gak apa-apalah, sekali-kali menyatu dengan suasana traffic di Jakarta. Beruntung pula cuaca pada saat itu sedang bersahabat, alias tidak panas maupun tidak hujan.

Tak terasa tibalah di masjid yang aku tuju, berkat petunjuk arah dari Mbah Google. Kutengok di seberang jalan ada rumah makan khas Padang. Cocok, nih! Di Google Maps masjidnya kelihatannya besar, eh tetiba sampai di sana, ternyata tak sebesar yang aku kira. Di jam salat zuhur masjid ini sangat ramai, bahkan terisi penuh sampai shaf paling belakang. Gak kebayang gimana kalau salat Jumat, ya.

Jam salat zuhur pun masjid udah penuh, gimana kalau salat Jumat nanti, ya?

Salat sudah, lanjut cusss makan siang, memesan sebuah nasi ayam yang ditemani kuah dan sambal khas Minang, yang seharusnya pedas tapi gak ada pedas-pedasnya, dan menikmati tiap suapan nasi seorang diri. Memang, dimana pun kita berada, rumah makan Padang selalu menjadi pilihan mengisi perut dengan dana cekak. Singkat ceritanya, setelah aku makan, bayar ke kasir, lalu cuss balik ke kantor untuk mengikuti tes sesi kedua.

Ternyata tesnya gak memakan waktu yang lama. Waktu masih menunjukkan pukul 14.30, aku pun memutuskan untuk mengunjungi sebuah mall yang lagi-lagi terletak tak jauh dari kantor tempat aku tes. Tak banyak aktivitas yang bisa aku lakukan di sini. Sudah aku kelilingi mall ini, ternyata isinya kebanyakan toko-toko fashion branded yang pastinya harganya mahal. Duh jauh-jauh ke Jakarta beli barang fashion branded, kan mall di Palembang banyak wqwqq.

Hayoo naksss Jekartah, tebak mall apa ini?

It's Time to Go Home

Kesempatan aku bebas jalan-jalan cuma satu hari saja, ya tepatnya usai aku melaksanakan tes. Minimnya pengetahuan transportasi umum di Jakarta dan demi mengejar masa berlaku rapid tes membuat aku mesti mengurungkan niat mengunjungi tempat-tempat wisata lain di Jakarta. Walaupun begitu, seharian full jalan-jalan sendirian sudah memberikan kesenangan tersendiri bagiku. Istilahnya itu, Q-Time dengan diri sendiri.

Pagi-pagi subuh di hari Rabu aku sudah bersiap-siap untuk pulang, mulai dari mempacking seluruh barang bawaanku hingga mandi membersihkan diri. Taksi yang telah dibooking dari malam sebelumnya tiba tepat waktu, sehingga tak mesti payah-payah mencari-cari moda transportasi yang mau mengantarkan aku ke bandara.

Sesampainya aku di Bandara Halim Perdana Kusuma, di sini aku mengalami sedikit kebingungan. Di bandara ini tampaknya tidak memberikan petunjuk arah prosedur mana dulu yang mesti dilakukan. Banyak calon penumpang lain yang telah capek-capek mengantre untuk masuk ditolak oleh petugas karena belum melakukan validasi bukti hasil rapid tes. Beruntung aku sigap membaca tulisan-tulisan keterangan di bandara sehingga aku tak melakukan kesalahan seperti para penumpang yang lainnya. Alhamdulillah selama perjalanan di udara semuanya berjalan dengan lancar, aku pun bisa tiba di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II dengan selamat. Aku keluar langsung mencari taksi bandara, dan menuju ke rumah. Home sweet home.

It's Addicting!

Memang awalnya aku merasa cemas luar biasa. Perasaan takut terhadap kemungkinan hal buruk yang akan terjadi memang wajar-wajar saja, karena ini merupakan trip solo pertamaku. Rasanya ingin dibatalkan saja, tetapi apalah daya tiket pesawat sudah dibeli. Namun setelah dijalankan, rasa kekhawatiranku itu semuanya tidak terbukti. Aku sendiri sangat menikmati segala momen yang aku alami selama di sana, walaupun tak jarang rasa keasingan terhadap lingkungan baru itu tetap ada.

Addicting? Yes, it's addicting! Jalan-jalan sendirian, di tempat asing pula seakan-akan memberikan kebebasan bagi diriku. Nobody rules me, I go wherever I like. Benar-benar sangat memanjakan diri. I wish it was longer trip so I could visit more places, tetapi tak apalah, mungkin di lain kesempatan bisa aku ulangi momen solo traveling tersebut.

Kesimpulannya? Don't be afraid! Selalu cermati segala keadaan yang ada di lingkungan sekitar. Jangan malas membaca tulisan-tulisan petunjuk yang ada di lokasi tersebut. Jangan malu buat bertanya dengan orang-orang sekitar. Ingat, berinteraksi dengan penduduk lokal termasuk dari bagian menikmati suasana kota, loh. Apalagi zaman sudah canggih, manfaatkan gadget untuk mencari informasi-informasi tempat sekitar, seperti tempat lokasi ataupun transportasi. Jangan dipakai cuma buat update Instastory aja, ya... hehee.

Solo Traveler Solo Traveler Reviewed by Muhammad Aldan Ihsan Darmawan on April 14, 2021 Rating: 5

2 komentar:

  1. Wkwkwk. Bankgeeee cs kntl. Kntl emang.


    Terus gedung yang kau kiro "masjid" dan ternyata "kantor" itu, setahu aku sebenernyo memang masjid. Tapi untuk golongan tertentu saja. Kau tal boleh shalat di sana krn itu "masjid" nya Syiah. Itu kan pusat kajian kebudayaan Iran milik Kedubes mereka.
    Dan mereka jg dak bohong sih, kalo itu kantor. Toh emang kantor.

    Tapi kalo mereka declare sebagai masjid syiah, keberadaan hidup mereka bakalan terancam chuaaakzzzzsz

    BalasHapus
  2. Wow, pengalaman yang menarik. Aku yang setahun bisa naik pesawat 6-12 kali aja masih takut setiap mau take off wkwk

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.